popot gi pulassssssss bgt.....
Tuesday, June 30, 2009
Saturday, June 13, 2009
Malam Minggu
(photo diambil dari www.skyscrapercity.com)
Sabtu malam minggu, 23.05 wib
Aq baru saja online, membuka ym dan blog ku, tak lupa juga membuka kaskus (situs favorite ku) yang memang tak pernah ketinggalan ku buka setiap kali aq online internet.
Malam ini begitu cerah, aq dan my sister (yang baru aja datang dari jauhh) baru saja keluar dari rumah dan berjalan2 menikmati suasa malam minggu di kota ini.
Tak seperti biasanya, beberapa hari terakhir ini aq memang lebih banyak menghabiskan waktu bersama kakak ku itu. Jika biasanya setiap malam minggu aq masih saja dikantor, tetap terus menatap komputer hingga mata perih dan wajib diistirahatkan, beberapa hari ini justru beda.
Aq pulang ke rumah lebih awal dari biasanya. Yupp.... pukul 16.00 wib, aq telah siap2 untuk pulang kerumah, malahan hari jum'at kmarin aq pulang malah pukul 14.00 wib...hehehehhe..
maklumlah...hari itu my sister baru aja tiba di Pekanbaru.
Malam ini kami (aq dan kakak ku) keluar dari rumah pukul 20.00wib. Sebenarnya niat keluar agak sorean, tapi udara di kota ini benar2 tak bersahabat, begitu menyengat....huhhhh...kulit ku langsung menghitam di sengat matahari sore saat aq pulang dari kantor pukul 15.00wib tadi.
hingga pukul 17.00 cuaca belum juga berubah. yahhh...kmi jadi malas beranjak dari kamar. HIngga muncul kesepakatan baru, kami akan keluar jalan-jalan sehabis Magrib saja, sekitar pukul 19.00wib.
Apa yang diniatkan tetap saja diundur oleh acara makan malam keluarga. Hmmm....sudah jarang banget aq ikutan ritual ini.....yahhh biasanya abis kerja pulang dari kantor udah pukul 20.00wib, orang rumah udah pada makan, jadi aq terpaksa makan sendirian di dapur jika dodi tidak mengajak ku makan malam di luar.
Pukul 20.00wib, baru niat yang telah kami susun dari dari sebelumnya terlaksana, walau tidak berjalan sepenuhnya. Apa yang di niatkan yakni mengunjungi nenek dan keluarga lainnya terpaksa di undur lagi esok pagi. Malam ini cukuplah rasanya sekedar mengujungi KK ku yang satunya lagi dan online di rumahnya. Hingga saat ini mata lom juga di ajak kompromi..padahal hari telah semakin larut dan untuk pulang pun jarak lumayan jauh.
Entah sampai kapan aq bertahan di monitor ini, mungkin setelah selesai menuliskan ini semua atau mungkin juga setelah perih yang melanda tak lagi tertahankan.
hmmm...agak nya aq harus pulang....cos begitu banyak agenda yang telah disusun untuk esok hari, mulai dari senam pagi, dan agenda lainnya yg telah diundur2 terus.
Semoga pagi esok semua agenda yang telah di susun dapat dijalankan.......semoga....
Friday, May 8, 2009
Bangsa yang terjajah
Lagi merenungi artikel di kompas yang membuat aq sedikit berfikir mengenai bangsa ini....cieeeeeeeeee
hmmm gmn menurut kmu....coba baca ja dehhh...
Tersinggunglah!
Oleh: Roy Thaniago
Seorang kawan yang baru lulus kuliah ditolak di mana-mana ketika melamar pekerjaan. Kesalahannya cuma satu, Ia terlalu bangga memakai bahasa Indonesia.
TIDAK seperti kebanyakan pelamar lain yang berfoya-foya dalam bahasa Inggris, kawan tadi memakai bahasa Indonesia dalam surat lamarannya. Jumlah alasannya memakai bahasa Indonesia pun sama dengan kesalahannya itu, cuma satu, yakni, ia melamar pada perusahaan yang ada di Indonesia, yang masyarakat, rekan kerja, dan pimpinannya berbahasa Indonesia. Perusahaan yang pekerjaanya bisa dikerjakan dalam bahasa Indonesia. Sialnya, kawan tadi lupa, kalau perusahaan di Indonesia merasa hebat ketika berhasil mengaudisi karyawannya dalam bahasa Inggris. Biar sedikit intelek, bro!
Dari perusahaan dengan banyak istilah asingnya – meeting, outing, order, customer, owner, break event point, part time, office boy – mari beralih ke bidang lain. Dalam pemerintahan, kebanggaan meminjam istilah Inggris juga amat mengenaskan – kalau tidak mau disebut mengesalkan atau memuakkan. Tampak sekali kalau para pejabat kewalahan untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia sepenuhnya, sehingga merasa perlu meminjam istilah asing. Tengoklah istilah seperti impeachment, smart card, voting, sampai yang paling tolol, busway.
Entah, tulah apa yang menelanjangi identitas kebangsaan kita. Kenapa kata-kata asing bertaburan dalam percakapan sehari-hari? Bahasa Indonesia seakan tak mampu bersolek dengan anggun bila tidak menggandeng bahasa Inggris. Orang paling bodoh sekali pun diatur gaya berbahasanya agar fasih melafal tengkyu, sori, serprais, sekuriti, syoping sebagai syarat penduduk berwawasan global – walau pengetahuan dan nalarnya tidak diajak mengglobal.
Tidak ketinggalan – dan ini yang paling menyakitkan – institusi publik yang seharusnya mendidik masyarakat, malah melayani kekeliruan berbahasa tersebut. Kita lihat bagaimana sekolah-sekolah berbangga dengan mengganti namanya dengan bahasa Inggris. Universitas mengiklankan dirinya di media dengan istilah Inggris seperti admission, free laptop, the leading university, faculty of management, dan seterusnya. Padahal target pemasarannya adalah orang-orang yang sehari-hari berbahasa Indonesia.
Media cetak maupun elektronik juga melayani semua kekenesan ini. Simak saja kata-kata yang mondar-mandir di halaman mata kita. Ada Today Dialogues, Woman of the Year, Sport, Headline News, dan sebagainya. Pada SINDO, sebuah media massa nasional, yang logikanya adalah sebuah media yang turut bertanggungjawab terhadap budaya berbahasa, pun bersikap demikian. Coba periksa koran ini pada tiap edisinya. Di halaman depan, mata pembaca sudah dihadang dengan rubrik ‘news’ dan ‘quote of the day’. Usaha meng-inggris ini belum usai, karena disusul di lembar-lembar berikutnya: rubrik ‘financial revolution’-nya Tung Desem Waringin, rubrik ‘people’, rubrik ‘fashion’, rubrik ‘food’, rubrik ‘rundown’, atau cap ‘special report’ pada artikel tertentu. Jangan tersenyum geli dulu, karena bukan saja SINDO, koran-koran lainnya pun tak luput dari gaya-gayaan berbahasa ini.
Mau contoh lain? Tak usah pergi jauh, karena cukup sambil duduk menggenggam halaman ini, bayangkanlah segala sesuatu di sekitar anda: merek permen, keterangan dalam bungkus mie instan, nama restoran, keterangan dalam gedung (exit, toilet, emergency), dan seterusnya, dan sebagainya, yang kalau dituliskan semua, artikel kali ini hanya akan memuat daftar ‘dosa’ tersebut. Dan tentunya memanjangkan rasa jengkel.
Lalu, menjadi sehebat Inggris atau Amerika-kah bangsa ini ketika berhasil mengadopsi bahasa mereka? Apakah dengan serta merta ekonomi negara menjadi seciamik mereka? Apakah dengan begitu terlihat cerdas karena berhasil mensejajarkan diri dengan bangsa Barat? Sampai sebegitu jijiknyakah kita terhadap bahasa Indonesia sehingga pada kata ‘peralatan kantor’ perlu ditemani kata dalam kurung ‘stationery’, ‘nyata’ ditemani kata dalam kurung ‘real’, atau ‘kekuatan’ yang ditemani ‘power’? Seakan mata kita lebih karib dengan kata di dalam kurung ketimbang kata dalam bahasa Indonesia-nya.
Masih cukup waraskah kita ketika menertawakan seorang artis muda yang ber-Inggris ria, “hujan..beychek..ojhek”, yang padahal adalah cermin dari ketidakberpribadian diri kita sendiri? Atau celakanya, latah pun kalau bisa dibuat-buat agar yang keluar secara spontan adalah kata, ‘oh my god’, ‘monkey’, ‘shit’, ‘fuck you’, atau ‘event organizer’.
Pada kasus lain kita temukan bagaimana sikap sok inggris ini tidak diimbangi dengan pengetahuan memadai. Contoh paling fatal, juga paling tolol, ada pada isitilah ‘busway’ yang tidak mengindahkan aturan bahasa, terlebih logika. Mana ada frase, “ke Blok M naik ‘jalanan bis’ sangat nyaman”.
Coba perhatikan, bagaimana kita melafal ‘AC’ (Air Conditioner) dan’HP’ (Hand Phone). Bukankah kita menyepel a-se untuk ‘AC’ dan ha-pe untuk ‘HP’? – padahal kalau sok Inggris layaklah dieja ei-si dan eitch-pi. Tapi tidak pada ‘VCD’ (Video Compact Disc) dan ‘PC’ (Personal Computer), karena kita menyepel vi-si-di dan pi-si. Konyolnya, ‘Media Nusantara Citra’ (MNC), dieja dengan em-en-si, bukan em-en-ce.
Yang paling menyedihkan, justru yang menghargai budaya (bahasa) Indonesia adalah orang asing. Mungkin kita sudah bosan mendengar bagaimana bertaburnya kelompok musik gamelan Jawa di Amerika. Di Eropa, beberapa konservatori musik malah menyediakan jurusan musik karawitan atau gamelan bali. Tengoklah yang terdekat, misalnya di Erasmus Huis, sebuah pusat budaya Belanda di Kuningan, Jakarta Selatan. Dalam program bulanan kegiatan yang dicetak di atas brosur, bahasa Indonesia-lah yang didahulukan, kemudian baru disusul dengan bahasa Belanda kemudian Inggris. Bila ada pementasan pun, buku acara, bahkan kata sambutannya pun – walau terbata-bata – mendahulukan bahasa Indonesia. Gilanya, hal ini justru terbalik bila artis Indonesia yang tampil.
Pada konser Nusantara Symphony Orchestra yang berkolaborasi dengan Tokyo Philharmonie Orchestra di Balai Sarbini, 10 Juni 2008 lalu, sebagai perwakilan dari Indonesia, Miranda Goeltom yang orang Indonesia memberi sambutan, tentunya dalam bahasa Inggris. Lalu, sebagai perwakilan Jepang, kata sambutan dari ‘Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Jepang untuk Republik Indonesia’, Kojiro Shiojiri menyusul. Shiojiri yang asli Jepang ini, yang tidak ada untungnya karena memakai bahasa Indonesia, malah dengan pede-nya berpidato dalam bahasa Indonesia, meski terbata. Sudah cukup muakkah membaca kenorakan kita di atas?
Memang, bahasa yang hidup adalah bahasa yang dinamis dan terus dirusak. Tidak seperti bahasa yang sudah mati seperti bahasa Latin. Namun dalam konteks ini, sama sekali tidak menandakan bahwa masyarakat Indonesia sedang mengembangkan bahasanya secara sadar. Sebaliknya, masyarakat kita tidak mempunyai kemampuan untuk mengenali fenomena budaya yang menggigiti identitas bangsa. Tidak mampu mengatasi kekagokkannya sendiri terhadap budaya asing. Mirip orang kampung yang merias berlebihan dengan segala pernak-pernik kota sepulangnya ke kampung halaman.
Bangsa yang persoalan budaya-nya dianggap sepele bukan Indonesia sendiri. Tenang saja, kita ada kawan. Bangsa Romawi adalah kawan yang dimaksud. Secara militer Romawi memang menjajah Yunani, tapi dalam hal kultural, Yunani-lah yang menjajah. Kalau kita, militer dijajah, budaya dijajah, ekonomi juga dijajah. Lalu apa yang bisa membuat bangsa ini tidak terjajah? Ketika tersinggung saat membaca artikel ini, begitu jawabnya.
Jadi, tersinggunglah!
Roy Thaniago
Penggiat Agenda 18,
Pecinta Bahasa Indonesia
Tersinggunglah!
Oleh: Roy Thaniago
Seorang kawan yang baru lulus kuliah ditolak di mana-mana ketika melamar pekerjaan. Kesalahannya cuma satu, Ia terlalu bangga memakai bahasa Indonesia.
TIDAK seperti kebanyakan pelamar lain yang berfoya-foya dalam bahasa Inggris, kawan tadi memakai bahasa Indonesia dalam surat lamarannya. Jumlah alasannya memakai bahasa Indonesia pun sama dengan kesalahannya itu, cuma satu, yakni, ia melamar pada perusahaan yang ada di Indonesia, yang masyarakat, rekan kerja, dan pimpinannya berbahasa Indonesia. Perusahaan yang pekerjaanya bisa dikerjakan dalam bahasa Indonesia. Sialnya, kawan tadi lupa, kalau perusahaan di Indonesia merasa hebat ketika berhasil mengaudisi karyawannya dalam bahasa Inggris. Biar sedikit intelek, bro!
Dari perusahaan dengan banyak istilah asingnya – meeting, outing, order, customer, owner, break event point, part time, office boy – mari beralih ke bidang lain. Dalam pemerintahan, kebanggaan meminjam istilah Inggris juga amat mengenaskan – kalau tidak mau disebut mengesalkan atau memuakkan. Tampak sekali kalau para pejabat kewalahan untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia sepenuhnya, sehingga merasa perlu meminjam istilah asing. Tengoklah istilah seperti impeachment, smart card, voting, sampai yang paling tolol, busway.
Entah, tulah apa yang menelanjangi identitas kebangsaan kita. Kenapa kata-kata asing bertaburan dalam percakapan sehari-hari? Bahasa Indonesia seakan tak mampu bersolek dengan anggun bila tidak menggandeng bahasa Inggris. Orang paling bodoh sekali pun diatur gaya berbahasanya agar fasih melafal tengkyu, sori, serprais, sekuriti, syoping sebagai syarat penduduk berwawasan global – walau pengetahuan dan nalarnya tidak diajak mengglobal.
Tidak ketinggalan – dan ini yang paling menyakitkan – institusi publik yang seharusnya mendidik masyarakat, malah melayani kekeliruan berbahasa tersebut. Kita lihat bagaimana sekolah-sekolah berbangga dengan mengganti namanya dengan bahasa Inggris. Universitas mengiklankan dirinya di media dengan istilah Inggris seperti admission, free laptop, the leading university, faculty of management, dan seterusnya. Padahal target pemasarannya adalah orang-orang yang sehari-hari berbahasa Indonesia.
Media cetak maupun elektronik juga melayani semua kekenesan ini. Simak saja kata-kata yang mondar-mandir di halaman mata kita. Ada Today Dialogues, Woman of the Year, Sport, Headline News, dan sebagainya. Pada SINDO, sebuah media massa nasional, yang logikanya adalah sebuah media yang turut bertanggungjawab terhadap budaya berbahasa, pun bersikap demikian. Coba periksa koran ini pada tiap edisinya. Di halaman depan, mata pembaca sudah dihadang dengan rubrik ‘news’ dan ‘quote of the day’. Usaha meng-inggris ini belum usai, karena disusul di lembar-lembar berikutnya: rubrik ‘financial revolution’-nya Tung Desem Waringin, rubrik ‘people’, rubrik ‘fashion’, rubrik ‘food’, rubrik ‘rundown’, atau cap ‘special report’ pada artikel tertentu. Jangan tersenyum geli dulu, karena bukan saja SINDO, koran-koran lainnya pun tak luput dari gaya-gayaan berbahasa ini.
Mau contoh lain? Tak usah pergi jauh, karena cukup sambil duduk menggenggam halaman ini, bayangkanlah segala sesuatu di sekitar anda: merek permen, keterangan dalam bungkus mie instan, nama restoran, keterangan dalam gedung (exit, toilet, emergency), dan seterusnya, dan sebagainya, yang kalau dituliskan semua, artikel kali ini hanya akan memuat daftar ‘dosa’ tersebut. Dan tentunya memanjangkan rasa jengkel.
Lalu, menjadi sehebat Inggris atau Amerika-kah bangsa ini ketika berhasil mengadopsi bahasa mereka? Apakah dengan serta merta ekonomi negara menjadi seciamik mereka? Apakah dengan begitu terlihat cerdas karena berhasil mensejajarkan diri dengan bangsa Barat? Sampai sebegitu jijiknyakah kita terhadap bahasa Indonesia sehingga pada kata ‘peralatan kantor’ perlu ditemani kata dalam kurung ‘stationery’, ‘nyata’ ditemani kata dalam kurung ‘real’, atau ‘kekuatan’ yang ditemani ‘power’? Seakan mata kita lebih karib dengan kata di dalam kurung ketimbang kata dalam bahasa Indonesia-nya.
Masih cukup waraskah kita ketika menertawakan seorang artis muda yang ber-Inggris ria, “hujan..beychek..ojhek”, yang padahal adalah cermin dari ketidakberpribadian diri kita sendiri? Atau celakanya, latah pun kalau bisa dibuat-buat agar yang keluar secara spontan adalah kata, ‘oh my god’, ‘monkey’, ‘shit’, ‘fuck you’, atau ‘event organizer’.
Pada kasus lain kita temukan bagaimana sikap sok inggris ini tidak diimbangi dengan pengetahuan memadai. Contoh paling fatal, juga paling tolol, ada pada isitilah ‘busway’ yang tidak mengindahkan aturan bahasa, terlebih logika. Mana ada frase, “ke Blok M naik ‘jalanan bis’ sangat nyaman”.
Coba perhatikan, bagaimana kita melafal ‘AC’ (Air Conditioner) dan’HP’ (Hand Phone). Bukankah kita menyepel a-se untuk ‘AC’ dan ha-pe untuk ‘HP’? – padahal kalau sok Inggris layaklah dieja ei-si dan eitch-pi. Tapi tidak pada ‘VCD’ (Video Compact Disc) dan ‘PC’ (Personal Computer), karena kita menyepel vi-si-di dan pi-si. Konyolnya, ‘Media Nusantara Citra’ (MNC), dieja dengan em-en-si, bukan em-en-ce.
Yang paling menyedihkan, justru yang menghargai budaya (bahasa) Indonesia adalah orang asing. Mungkin kita sudah bosan mendengar bagaimana bertaburnya kelompok musik gamelan Jawa di Amerika. Di Eropa, beberapa konservatori musik malah menyediakan jurusan musik karawitan atau gamelan bali. Tengoklah yang terdekat, misalnya di Erasmus Huis, sebuah pusat budaya Belanda di Kuningan, Jakarta Selatan. Dalam program bulanan kegiatan yang dicetak di atas brosur, bahasa Indonesia-lah yang didahulukan, kemudian baru disusul dengan bahasa Belanda kemudian Inggris. Bila ada pementasan pun, buku acara, bahkan kata sambutannya pun – walau terbata-bata – mendahulukan bahasa Indonesia. Gilanya, hal ini justru terbalik bila artis Indonesia yang tampil.
Pada konser Nusantara Symphony Orchestra yang berkolaborasi dengan Tokyo Philharmonie Orchestra di Balai Sarbini, 10 Juni 2008 lalu, sebagai perwakilan dari Indonesia, Miranda Goeltom yang orang Indonesia memberi sambutan, tentunya dalam bahasa Inggris. Lalu, sebagai perwakilan Jepang, kata sambutan dari ‘Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Jepang untuk Republik Indonesia’, Kojiro Shiojiri menyusul. Shiojiri yang asli Jepang ini, yang tidak ada untungnya karena memakai bahasa Indonesia, malah dengan pede-nya berpidato dalam bahasa Indonesia, meski terbata. Sudah cukup muakkah membaca kenorakan kita di atas?
Memang, bahasa yang hidup adalah bahasa yang dinamis dan terus dirusak. Tidak seperti bahasa yang sudah mati seperti bahasa Latin. Namun dalam konteks ini, sama sekali tidak menandakan bahwa masyarakat Indonesia sedang mengembangkan bahasanya secara sadar. Sebaliknya, masyarakat kita tidak mempunyai kemampuan untuk mengenali fenomena budaya yang menggigiti identitas bangsa. Tidak mampu mengatasi kekagokkannya sendiri terhadap budaya asing. Mirip orang kampung yang merias berlebihan dengan segala pernak-pernik kota sepulangnya ke kampung halaman.
Bangsa yang persoalan budaya-nya dianggap sepele bukan Indonesia sendiri. Tenang saja, kita ada kawan. Bangsa Romawi adalah kawan yang dimaksud. Secara militer Romawi memang menjajah Yunani, tapi dalam hal kultural, Yunani-lah yang menjajah. Kalau kita, militer dijajah, budaya dijajah, ekonomi juga dijajah. Lalu apa yang bisa membuat bangsa ini tidak terjajah? Ketika tersinggung saat membaca artikel ini, begitu jawabnya.
Jadi, tersinggunglah!
Roy Thaniago
Penggiat Agenda 18,
Pecinta Bahasa Indonesia
Wednesday, April 22, 2009
Manohara Pinot
Pernikahan antar negara, Manohara Pinoat dan Pangeran Fakhry
Pagi tadi, pas abis bangun tidur seperti biasa aq beres2 kamar en langsung nonton Apakabar Indonesia pagi di TV One. pas lagi iklan, tangan gatel banget untuk ganti-ganti chanel tv, ehh tau-tau nemu berita mengenai model cantik Indonesia yang dianiaya suaminya yang merupakan Pangeran Kerajaan Kelantan, Malaysia. Bener gak nihh beritanya....... rada gak percaya tapi beritanya keburu abiss..yahhhhh. Aq buru2 mandi en berangkat kerja.Saat tiba di kantor.... rasa penasaran masih memuncak di kepala. Bener gak sih berita yang aq lihat di infotaiment tadi? Kalau sudah penasaran begini biasanya aq tanya-tanya ama om google gerangan apa sebenarnya yang terjadi.
Manohora Adelia Pinot, model Indonesia blasteran Prancis kelahiran Jakarta 1992 yang diberitakan media di Jakarta diculik oleh suaminya sendiri Tengku Muhammad Fakhry, putra Raja Kelantan Malaysia. Wah...wah wah.. diculik bagaimana nihh? kok bisa dikatakan diculik? mereka kan suami istri? Ssepertinya masalah suami istri ini malah diseret ke wilayah sulit, menjadi urusan urusan antar pemerintah kedua Negara, Indonesia dan Malaysia..
Hmm benarkah seserius itu?
Sejenak Aq melupakan mengenai pemberitaan politik yang memang belakang ini begitu hangat di bicarakan. Aq jadi rajin browsing2 hal-hal yang berkaitan dengna model cantik ini bahkan aq juga mulai ikut2an menyaksikan acara gosip walaupun hanya cuma ingin mengikuti pemberitaan Manohara.
Dari hasil browsing, tampaknya memang media indonesia yang bener2 menjadikan hal ini berita hangat, baik dari situs2 berita, situs gosip hingga ke forum2 diskusi internet, sementara dari situs malaysia aq hanya mendapati dua blog yang bercerita tentang manohara serta menyiarkan foto-foto Manohara bersama suaminya yang terlihat bahagia, berikut agenda kegiatan Manohara di Kelantan yang menangkis berita penculikan yang beredar di Indonesia. Versi mana yang benar? Kita belum tahu. sepertinya propaganda kontra propaganda melalui media telah terjadi.
Sementara itu ada satu forum diskusi milik malaysia, juga ikut membicarakan mengenai istri pangeran ini, Namun forum ini jauh sebelum ini memang telah membicarakan Manohara sejak Manohara menikah dengan Pangeran Fakhry. Awal pembicaraan forum ini juga lebih kepada kegebiraan mereka mengenai berita pernikahan pangeran dan manohara hingga munculnya berita penculikan Manohara oleh sang pangeran, mereka juga masih bertanya-tanya apa yg sebenarnya terjadi.
Benarkah ada masalah? Mengapa pangeran sampai disebut menculik Manohara? toh Mereka kan tidak kawin paksa seperti zaman Siti Nurbaya. Dan kenapa demikian mudahnya beberapa peristiwa kecil menyulut emosi media di kedua negeri serumpun? Setidaknya menurut pendapatku, Kunjungan Perdana Menteri Malaysia, Najib Tun Razak ke Jakarta lalu membawa pesan persaudaraan.
Sedikit Mengutip pernyataan Drh Chaidir, Memang seharusnya kita bangun rasa saling hormat-menghormati. Karena sampai dunia kiamat pun kita tetap dua negeri yang berjiran. Mau lari kemana?
Friday, April 17, 2009
Friday, April 3, 2009
Contreng ato Centang nihh?

Pemilu kian dekat, tinggal hitungan hari. Begitu banyak tayangan atau pun iklan iklan yang menanyangkan hal-hal yang berkaitan dengna pemilu dan berbagai atribut-atributnya seperti istilah contreng.
Akhir-akhir ini masyarakat memang tidak asing lagi dengan kata contreng. Nahh...Tampak Dian Purba si penulis dalam situs di atas sangat jeli mengamati penggunaan kata yang sangat sering didengar ini. Nah ternyata kata contreng yang sering terdengar di tayangan-tayangan iklan sosialisasi pemilu ini tidak dikenal dalam kamus besar bahasa indonesia alias KBBI.
Nah loh.. kok bisa aparat pemerintah menggunakan kata yang tidak atau belum baku dalam melakukan sosialisasi kepada masyarakat?
Jadi..menurut Dian lagi nih... (tapi Aq setuju kok dengan pendapat dia..hehehhehe) Harusnya kita memakai kata Centang harus untuk menempatkan diri sebagai kata kerja: ’memberi tanda koreksi, bisa berbentuk huruf (v).
Kalaupun masih menganggap kurang klop, kita bisa menggunakan conteng dan barangkali coreng.
Dari pada "coblos" lagi??? kesannya khan rada mesum tuh!!! hahahhahahahaha.......
Tuesday, March 10, 2009
Lirik Lagu Mungkin - Potret
Mungkin...
Aku bisa bercinta dengan kamu
Kendati kata-katamu selalu
Menusuk jantung melukaiku
Reff:
Mungkin...
Ku mau memaafkan mu kembali
Demi cinta yang ada dihatiku
Meloloskan mu dari kata pisah
Mungkin sang fajar
Dan sayap-sayap burung patah
Menyaksikan kita berseteru
S'lalu tak pernah damai
Mungkin cintaku
Terlalu kuat dan menutupi
Jiwa yang dendam akan kerasmu
Sehingga kita bersama
Mungkin
Mungkin...
Ku mau memaafkan mu kembali
Demi cinta yang ada dihatiku
Meloloskanmu dari kata pisah
Mungkin
Back to Reff:
Mungkin cintaku
Terlalu kuat dan menutupi
Jiwa yang dendam akan kerasmu
Sehingga kita bersama
Mungkin
Aku bisa bercinta dengan kamu
Kendati kata-katamu selalu
Menusuk jantung melukaiku
Reff:
Mungkin...
Ku mau memaafkan mu kembali
Demi cinta yang ada dihatiku
Meloloskan mu dari kata pisah
Mungkin sang fajar
Dan sayap-sayap burung patah
Menyaksikan kita berseteru
S'lalu tak pernah damai
Mungkin cintaku
Terlalu kuat dan menutupi
Jiwa yang dendam akan kerasmu
Sehingga kita bersama
Mungkin
Mungkin...
Ku mau memaafkan mu kembali
Demi cinta yang ada dihatiku
Meloloskanmu dari kata pisah
Mungkin
Back to Reff:
Mungkin cintaku
Terlalu kuat dan menutupi
Jiwa yang dendam akan kerasmu
Sehingga kita bersama
Mungkin
Friday, March 6, 2009
.Different Beat With Different People.......
peringatan hari AIDS di Hotel Aston Pekanbaru
kemarin malam siaran langsung lagi..with different people tentunya....
yahhh sejak bulan feb....kantor ini byk ngelakuin perubahan lumayan besar-besaran, hingga ke jabatan2 yang stategis...
karena perubahan itu perlu.. (kata orang-yang lagi kampanye..heheheheh ) so...ada yang berubah juga di siaran langsung.....
perubahan yang bisa di lihat langsung yahh orang2nya berubah alias ada beberapa yang berganti. Truss jumlah kru bertambah...truss ...anggota bertambah kualitas siaran juga berubah dunk.........hehehheehe.... (kesejahteraan kru akan berubah juga gak yahh...hmm.. :-? )
Nah karena hampir semuanya berubah...acara yang di siarkan kmrn malam juga gak seperti acara2 biasanya..... Siaran langsung kali ini yakni siaran langsung final kejuaran gubernur cup yang diadakan di gor baru di jalan angkasa. Jarang2 bgt Riau tv dapat acara siaran langsung olah raga kayak gini dalam beberapa tahun belakangan ini. Ternyata seru juga...... cos aq bukan hanya sekedar ngejalanin tugas seperti biasanya, tapi juga menikmati setiap pertandingan2 yang berlangsung. sayangnya kondisi badan gak fit banget, cos sempat telat makan :(:(:(:(
Hmmm...besok2 klo mo siaran lngsng harus2 siap2 stamina nihh biar gak lemes kyk kemarin.... :D:D
karena perubahan itu perlu.. (kata orang-yang lagi kampanye..heheheheh ) so...ada yang berubah juga di siaran langsung.....
perubahan yang bisa di lihat langsung yahh orang2nya berubah alias ada beberapa yang berganti. Truss jumlah kru bertambah...truss ...anggota bertambah kualitas siaran juga berubah dunk.........hehehheehe.... (kesejahteraan kru akan berubah juga gak yahh...hmm.. :-? )
Nah karena hampir semuanya berubah...acara yang di siarkan kmrn malam juga gak seperti acara2 biasanya..... Siaran langsung kali ini yakni siaran langsung final kejuaran gubernur cup yang diadakan di gor baru di jalan angkasa. Jarang2 bgt Riau tv dapat acara siaran langsung olah raga kayak gini dalam beberapa tahun belakangan ini. Ternyata seru juga...... cos aq bukan hanya sekedar ngejalanin tugas seperti biasanya, tapi juga menikmati setiap pertandingan2 yang berlangsung. sayangnya kondisi badan gak fit banget, cos sempat telat makan :(:(:(:(
Hmmm...besok2 klo mo siaran lngsng harus2 siap2 stamina nihh biar gak lemes kyk kemarin.... :D:D
Thursday, February 12, 2009
Siaran Langsung Mulai lagi
Setelah sekian lama gak ada siaran langsung (silang)...(hmmm terakhir siaran langsung itu akhir desember pas malam tahun baru) nahh dalam minggu2 ini dah mulai lagi siaran langsung.
Bedanya, siaran langsung kali ini pak mul yang dulunya manager prog dan studio gak ikutan..cos beliau emang sudah tidak menjabat lagi. Manager prog dan studio yang baru sekarang dipegang oleh Bang Bambang Suwarno.
Beda?? ya pasti lahh......hehehehehhe
agak2 gimana gitu...
bedanya terasa banget saat silang Pentas Kreasi Anak Indomilk di all SKA. kru yang terlibat lebih banyak...mudah2an dengan begitu hasil nya lebih baik.....
beda lainnya....hmmm mungkin masih agak terasa kaku untuk ngobrol dengan manager yang baru....klo dengan pak mul biasanya pas silang berlangsung kita2 di ob van selalu ngobrol macam2.....yahh ttg kerjaan, rumah dll.
Tapi satu hal yang jadi harapan ku en juga harapan kru2 lainnya mungkin....semoga dengan digantinya manager baru, para kru bis lebih bersemangat kerja dan semakin kompak dalam menjalankan tugas masing-masing. Aminn
Tuesday, February 3, 2009
Ketua DPRD Sumut Meninggal
Sore-sore sambil nunggu jam pulang, seperti biasa.....browsing2 sambil buka-buka kaskus. Pas baca2 di forum Lounge, gw kaget ada berita yang di ambil dari situs kompas mengenai Ketua DPRD Sumut meninggal dunia. innalillahi wa inna illaihi rojiun.......
Sebenarnya klo meninggal dalam keadaan yang wajr sihh aq gak begitu kaget, tapi dalam berita tersebut, ketua DPRD Sumut tersebut meninggal karena tewas dipukuli oleh para demonstran yang menuntut pembentukan Provinsi Tapanuli. gila banget........
Aq bergegas buka televisi, pas banget.. seputar indonesia nanyangin berita mengenai hal tersebut.
Parah bener ... Anarkis bngt..kata2 apalagi yg mesti aq tulis yahhh.....
para demonstran sampe masuk gedung ngerusak sana-sini, lempar-lempar gelas dll, trus mukulin ketua DPRD digiring keluar sampe pingsan..
Bingung mo nanggapin, siapa yang harus disalahin???
petugas keamanan yang kurang sigap mengantisipasi kejadian ini atau para demonstran yang bener2 anarkis ampe keluar dari rambu-rambu yang ada atau para pejabat kita yang kurang bisa menghargai aspirasi masyarakat. entahh lah......
Mengapa nilai demokrasi yangkita junjung tinggi berubah jadi anarki?
Mengapa atas nama demokrasi kita bebas melakukan apa yg kita inginkan? Bukankah dibalik kebebasan kita, ada kebebasan orang lain yang harus dijaga?
Mari membangun indonesia dengan damai seberapa beratpun usaha tersebut.......
Nb: jd ingat suasana gedung DPRD saat aq masih di Medan en ngeliput berita di sana...
Sebenarnya klo meninggal dalam keadaan yang wajr sihh aq gak begitu kaget, tapi dalam berita tersebut, ketua DPRD Sumut tersebut meninggal karena tewas dipukuli oleh para demonstran yang menuntut pembentukan Provinsi Tapanuli. gila banget........
Aq bergegas buka televisi, pas banget.. seputar indonesia nanyangin berita mengenai hal tersebut.
Parah bener ... Anarkis bngt..kata2 apalagi yg mesti aq tulis yahhh.....
para demonstran sampe masuk gedung ngerusak sana-sini, lempar-lempar gelas dll, trus mukulin ketua DPRD digiring keluar sampe pingsan..
Bingung mo nanggapin, siapa yang harus disalahin???
petugas keamanan yang kurang sigap mengantisipasi kejadian ini atau para demonstran yang bener2 anarkis ampe keluar dari rambu-rambu yang ada atau para pejabat kita yang kurang bisa menghargai aspirasi masyarakat. entahh lah......
Mengapa nilai demokrasi yangkita junjung tinggi berubah jadi anarki?
Mengapa atas nama demokrasi kita bebas melakukan apa yg kita inginkan? Bukankah dibalik kebebasan kita, ada kebebasan orang lain yang harus dijaga?
Mari membangun indonesia dengan damai seberapa beratpun usaha tersebut.......
Nb: jd ingat suasana gedung DPRD saat aq masih di Medan en ngeliput berita di sana...
Wednesday, January 28, 2009
Kapolda Riau diganti lagi?
Kapolda Riau diganti?
Mendadak atau bukan, aq juga kurang tau. Yang jelas, memang selama ini isu-isu mengenai hal tersebut sempat beredar saat Brigadir Jenderal Hadiatmoko selaku Kapolda Riau dipanggil oleh kapolri beberapa waktu yang lalu. Rumor pergantian Kapolda Riau pun semakin kuat menyusul kian jarangnya Kapolda berada di kantor dan lebih sering berada di Jakarta. Kapolda juga tak pernah lagi nampak menghadiri acara resmi Pemprov Riau sebagai anggota Muspida Riau.
Apa sebab pergantian tersebut? hmm kabarnya lagi.....ada dua kemungkinan sebab pergantian tersebut.
Sebab Pertama yakni dikarenakan kegagalan Polda Riau menuntaskan 13 kasus ilegal logging yang akhirnya harus berhenti dengan keluarnya Surat Perintah Pemberhentian Penyidikan (SP3) dan adanya kasus dugaan pelanggaran hukum pada pengusiran ratusan anggota Serikat Tani Riau (STR) dari lahan konsesi HTI PT. Arara Abadi di Dusun Suluk Bongkal, Tasik Serai, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis pada 19 Desember silam.
Hal itu memang banyak membuat orang, terutama yang sudah muak dengan byk nya kasus ileggal logging di Riau- kecewa. Bukan apa-apa hutan Riau sudah begitu banyak dikorban kan buat kepentingan-kepentingan pihak tertentu yang tentu saja memperkaya diri sendiri.
Kembali ke pemberhentian Hadiatmoko sebagai kapolda Riau, sebenarnya telah beberapa kali massa melakukan aksi unjuk rasa, baik berhubungan dengan sp3 13 kasus illegal logging mau pun kasus lainnya. aksi unjuk rasa tersebut menuntut agar kapolda Riau di ganti.
Misalnya saja aksi unjuk rasa yang terjadi pada tanggal 6 januari 2009 ratusan massa yang tergabung dalam solidaritas rakyat untuk keadilan (sorak) juga menggelar aksi unjuk rasa di Polda Riau. Mereka menuntut pencopotan Hadiatmoko selaku Kapolda Riau. hal itu dikarenakan keluarnya surat Pemberitahuan Penghentian Penyidikan (SP3) 13 kasus llegal logging oleh polda riau. selain itu juga di sebabkan aksi penggusuran ratusan petani anggota STR dari lahan konsesi HTI PT Arara Abadi di Dusun Suluk Bongkal Desa Tasik Serai Bengkalis.
Nah Sebab kedua kabarnya yakni karena dinilai sukses menggulung bandar judi toto gelap (Togel) berskala internasional dengan bandar besar Candra Wijaya alias Acin.
Kegagalan dan kesuksesan??? hmm aq juga agak bingung.. alasan pemberhentian yang paling tepat yang mana. Yang pasti memang dari pihak Mabes Polri sendiri memang sedang terjadi mutasi besar-besaran. Ada sekitar 25 perwira tinggi dan 41 perwira menengah yang di mutasi.
Hadiatmoko sekarang menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Wakabareskrim) Polri, menggantikan Inspektur Jenderal Paulus Purwoko yang menempati jabatan baru sebagai Kepala Sekolah Pimpinan Polri.
Sedangkan Kapolda Riau yang baru, dijabat Brigadir Jenderal Aji Rustam Ramja. Sebelumnya, dia menjabat sebagai Direktur Eksekutif Jakarta Centre for Law Enforcement Education.
Seperti apa orangnya?
Hmmm..yang pasti.. Kapolda yang baru semoga bisa bekerja lebih baik dari para pendahulu-pendahulunya.......
Apa sebab pergantian tersebut? hmm kabarnya lagi.....ada dua kemungkinan sebab pergantian tersebut.
Sebab Pertama yakni dikarenakan kegagalan Polda Riau menuntaskan 13 kasus ilegal logging yang akhirnya harus berhenti dengan keluarnya Surat Perintah Pemberhentian Penyidikan (SP3) dan adanya kasus dugaan pelanggaran hukum pada pengusiran ratusan anggota Serikat Tani Riau (STR) dari lahan konsesi HTI PT. Arara Abadi di Dusun Suluk Bongkal, Tasik Serai, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis pada 19 Desember silam.
Hal itu memang banyak membuat orang, terutama yang sudah muak dengan byk nya kasus ileggal logging di Riau- kecewa. Bukan apa-apa hutan Riau sudah begitu banyak dikorban kan buat kepentingan-kepentingan pihak tertentu yang tentu saja memperkaya diri sendiri.
Kembali ke pemberhentian Hadiatmoko sebagai kapolda Riau, sebenarnya telah beberapa kali massa melakukan aksi unjuk rasa, baik berhubungan dengan sp3 13 kasus illegal logging mau pun kasus lainnya. aksi unjuk rasa tersebut menuntut agar kapolda Riau di ganti.
Misalnya saja aksi unjuk rasa yang terjadi pada tanggal 6 januari 2009 ratusan massa yang tergabung dalam solidaritas rakyat untuk keadilan (sorak) juga menggelar aksi unjuk rasa di Polda Riau. Mereka menuntut pencopotan Hadiatmoko selaku Kapolda Riau. hal itu dikarenakan keluarnya surat Pemberitahuan Penghentian Penyidikan (SP3) 13 kasus llegal logging oleh polda riau. selain itu juga di sebabkan aksi penggusuran ratusan petani anggota STR dari lahan konsesi HTI PT Arara Abadi di Dusun Suluk Bongkal Desa Tasik Serai Bengkalis.
Nah Sebab kedua kabarnya yakni karena dinilai sukses menggulung bandar judi toto gelap (Togel) berskala internasional dengan bandar besar Candra Wijaya alias Acin.
Kegagalan dan kesuksesan??? hmm aq juga agak bingung.. alasan pemberhentian yang paling tepat yang mana. Yang pasti memang dari pihak Mabes Polri sendiri memang sedang terjadi mutasi besar-besaran. Ada sekitar 25 perwira tinggi dan 41 perwira menengah yang di mutasi.
Hadiatmoko sekarang menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Wakabareskrim) Polri, menggantikan Inspektur Jenderal Paulus Purwoko yang menempati jabatan baru sebagai Kepala Sekolah Pimpinan Polri.
Sedangkan Kapolda Riau yang baru, dijabat Brigadir Jenderal Aji Rustam Ramja. Sebelumnya, dia menjabat sebagai Direktur Eksekutif Jakarta Centre for Law Enforcement Education.
Seperti apa orangnya?
Hmmm..yang pasti.. Kapolda yang baru semoga bisa bekerja lebih baik dari para pendahulu-pendahulunya.......
Subscribe to:
Posts (Atom)




