Friday, October 4, 2013

NASIONALISME DAN SENGKETA

   
Oleh Farid Gaban

Sengketa (pulau/perbatasan) adalah klaim dan kontra-klaim. Kita mengklaim memiliki wilayah tertentu dan negara lain mengklaim memilikinya pula.

Ketika orang mengatakan suatu pulau pernah kita miliki, itu sebenarnya klaim sepihak kita atas pulau tersebut. Negara lain, termasuk Malaysia, juga punya klaim.

Indonesia dan Malaysia itu negeri baru (dalam konteks sejarah, 60 tahun itu pendek). Dan dua-duanya adalah negeri bekas jajahan. Jajahan Belanda dan Inggris. Tidak hanya sekarang, dulu Belanda dan Inggris juga banyak bersengketa tentang wilayah jajahan.

Ketika merdeka, Indonesia mengklaim memiliki wilayah yang dulu dimiliki VOC/Belanda, berdasarkan peta yang dibuat Belanda, yang batasnya sendiri tidak jelas-jelas amat. Dari situlah potensi sengketa muncul sampai sekarang, meneruskan sengketa Belanda vs Inggris.

Kita tak hanya bersengketa dengan Malaysia, tapi dengan Vietnam, Australia, Filipina, Singapura, Palau, Papua Nugini, dan kini Timor Leste.

Klaim Indonesia terhadap pulau-pulau terluar baru diakui secara internasional pada 1970-an, berkat perjuangan Djuanda (dikenal sebagai Deklarasi Djuanda 1957). Tapi, itu pengakuan secara konseptual/prinsip. Batas (serta kepemilikan pulau) rinci di lapangan masih tetap menjadi sumber perbedaan. Dan, sayangnya, kita sendiri tidak memiliki data/klaim yang akurat.

Dulu, dalam pelajaran geografi, kita selalu diajari bahwa Indonesia adalah negeri yang memiliki 17.000 pulau. Itu ternyata hanya perkiraan. Baru setelah ada Departemen Kelautan (berkat Presiden Abdurrahman Wahid), kita menghitung lagi secara rinci. Belum lama ini, jumlah pulau yang didaftarkan Indonesia ke PBB hanya 13.000 pulau.

Kemana hilangnya 4.000 pulau? Bukan pulau-pulau itu hilang, atau dicaplok negeri lain. Itu soal akurasi data/klaim.

Negeri lain, seperti Malaysia, memiliki administrasi, data dan klaim lebih baik. Itu sebabnya mereka punya potensi memenangkan sengketa di mahkamah internasional.

Tentu saja ada jalan lain untuk memenangkan klaim atas suatu wilayah: perang, mengerahkan kekuatan militer.

Dalam estimasi sederhana, secara militer, Malaysia mungkin akan kalah melawan kekuatan Indonesia. Tapi, tetap belum tentu. Peristiwa tsunami di Aceh secara mencolok memperlihatkan betapa militer kita (baik kapabilitas maupun peralatan) kalah jauh dari Malaysia, Singapura dan Filipina, ketika menghadapi situasi darurat/genting. Perang bisa diibaratkan bencana.

Apalagi sudah jelas kita cenderung cuma memperkuat otot militer di darat (dengan membeli ratusan tank belum lama ini), bukan laut dan udara. Padahal, Indonesia adalah negeri laut.

Lebih dari itu, tentara kita terlalu lama diajari menindas rakyatnya sendiri, sangat sensitif dengan ancaman "separatisme" (doktrin NKRI yang sempit) seperti di Aceh, Timor Leste atau Papua. Tentara kita lembek ketika mengawal perbatasan dari ancaman luar. Sebagian karena korupnya.

Sengketa wilayah/lahan yang kita warisi dari Belanda tidak hanya terjadi di perbatasan. Dan tidak hanya Indonesia versus negara lain. Sebentar setelah merdeka, Indonesia menasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda/VOC termasuk asetnya yang berupa tanah dan bangunan. Presiden Soekarno memberi hak kepada militer untuk mengelola aset-aset itu.

Jangan heran jika hampir semua kantor Korem/Kodim sekarang menempati bangunan kuno zaman Belanda. Militer juga menguasai sebagian lahan-lahan perkebunan ex-Belanda. Dan dalam banyak kasus, tanah-tanah Belanda itu dulu diambil paksa dari masyarakat,  yang memunculkan sengketa sampai sekarang. Kini bukan VOC vs masyarakat, tapi militer vs rakyat.

Kasus Alas Tlogo di Jawa Timur, yang dipersengketakan antara Marinir dan petani, hanya puncak gunung es dari kasus-kasus serupa. Dalam kasus ini, marinir memakai senjata (milik rakyat) untuk menembaki rakyatnya sendiri.

Militer juga menguasai lahan/bangunan di pusat-pusat kota lama, yang dibangun pada masa kolonial, dan harganya mahal. Oleh segelintir jenderal, beberapa aset itu telah dijual kepada swasta. Benteng Vastenburg di Solo adalah salah satu contohnya. Jokowi, Walikota Solo, tak bisa mengelola benteng itu sebagai kawasan wisata kota tua. Kalau mau, pemerintahnya harus membeli benteng itu dengan harga mahal, dari swasta!

Wewenang yang diberikan oleh Bung Karno telah demikian jauh disalahgunakan. Militer tak hanya bersengketa dengan rakyatnya sendiri, tapi juga melakukan praktek-jual beli aset yang sebenarnya bukan milik mereka. Nasionalisme memang masih sering dibicarakan, tapi sebenarnya sudah lama dilupakan esensinya. Yang tersisa hanya slogan kosong.

Membicarakan nasionalisme atau kedaulatan negeri hanya dari aspek batas fisik saja tidak lagi memadai. Negeri lain, apakah itu Amerika atau Malaysia, kini dengan mudah bisa menguasai Indonesia (sumberdaya, manusianya) tanpa harus mengklaim sejengkal wilayahpun. Karena korupnya pejabat-pejabat kita.

Atas nama globalisasi, kita mengundang mereka sebagai investor, memberi mereka izin mengeksploitasi lingkungan dan sumberdaya kita, dan cenderung hanya menjadikan kita sekadar buruh atau sekadar pasar. Kita bahkan mengundang mereka ikut merumuskan legislasi di DPR, melakukan reformasi hukum di Mahkamah Agung.

Sengketa pulau-pulau tidak hanya terjadi di perbatasan. Belakangan mengemuka sengketa antara investor swasta dengan rakyat. Beberapa pulau di kawasan dalam Indonesia dikelola oleh swasta (nasional maupun asing) atau lembaga konservasi asing. Hak pengelolaan itu sudah tak ada bedanya dengan penguasaan. Di beberapa pulau, nelayan tak diperbolehkan masuk atau mendekati perairannya. Dan konflik sering terjadi. Salah satunya di Pulau Komodo yang sekarang sedang populer dibicarakan.

Neokolonialisme tidak mengenal batas fisik. Sementara kita masih saja ribut dengan yang fisik, itupun tidak substansial.***

Thursday, August 29, 2013

Serba keberuntungan di awal 2013




Tahun ini mungkin menjadi tahun keberuntungan dan kebetulan bagi aku dan teman-teman di divisi program dan studio.  Hal ini dimulai dari akhir tahun 2012.  Biasanya setiap akhir tahun divisi2 yang ada di rtv sibuk merencanakan acara jalan2.  Seperti divisi redaksi, mereka memutuskan untuk tour ke daerah pariaman tepatnya di pantai cingkuak sumatera barat.  divisi marketing dan divisi lainnya juga tidak mau ketinggalan, ada yang hanya tour ke bukit tinggi dan padang ada juga yang mengikuti jejak divisi redaksi yakni ke pariaman.  Di saat divisi lain sibuk dg tour mereka justru divisi program dan studio sibuk dengan pekerjaan.  Acara live baik indoor maupun outdoor, bertubi-tubi datang dan wajib dikerjakan.  Cerita tour di divisi lain hanya kami dengarkan tanpa komentar berlebihan.  Dalam hati, “Toh dari dulu memang divisi studio tidak pernah tour kemana-mana, kalau ke luar daerah pun karena tugas siaran live luar kota yang mengharuskan demikian, bukan untuk jalan-jalan.” Begitu pikir kami semua.

Namun ternyata Tuhan berkehendak lain (ceilehh bahasanya……).  Keberuntungan pertama bagi divisi kami pun hadir.  Dimulai dari menangnya 3 program acara divisi studio di KPI award yang diadakan oleh KPID prov riau. Dari sepuluh program acara yang dikirimkan untuk mengikuti perlombaan tersebut, ternyata riau tv memenangkan 3 kategori yang ketiga-tiganya diproduksi oleh divisi program dan studio. Ketiga program tersebut yakni program bebual dalam dendangan edisi menyulam songket, program ocu Kampar dan dialog pariwisata, mengangkat kebudayaan melayu di masyarakat local.    Kemenangan ini bukan saja membuat bangga divisi studio namun juga membuat senang para kru dengan diterimanya uang tunai sebagai hadiah perlombaan tersebut. 


Kemenangan tersebut memaksa kami mengadakan rapat luar biasa (memang bukan rapat biasa krna baru pertama kali menang..hihihi). Dalam rapat tersebut dibicarakan uang hadiah tersebut akan diapakan? Apakah dibagi-bagi kepada masing-masing kru? Ada masukan lain?
Para kru mulai berfikir.  Sampai akhirnya keluar jugalah keinginan dari mulut masing2 kru program bahwa sangat ingin sekali tour ke suatu tempat sekedar melepas segala beban kerjaan yang dihadapi setiap hari.  Manager kami Ibu Luna Agustin (jangan salah yaaa..bukan luna maya..) menyetujui dengan syarat: pertama, tour tersebut dibagi dalam dua kelompok.  Disaat Kelompok pertama berangkat maka kelompok kedua bekerja begitu juga sebaliknya.  Hal ini disebabkan studio sebagai ujung tanduk rtv tidak boleh ditinggal atau kosong barang seharipun karena klo semua kru pergi, rtv tidak akan bisa siaran (heheheh..itu sih sudah jelas bu……ungkap kami dalam hati sambil senyum2 simpul mati).


Syarat kedua, jadwal tour tidak bisa diakhir tahun 2012, karena padatnya jadwal live baik indoor maupun outdoor dan juga tidak bisa diperetengahan tahun 2013 karena mulai bulan mei hingga september akan banyak even seperti hut rtv, bulan ramadhan, idul fitri, dan juga hut RI serta even2 lainnya yang sangat padat dg jadwal siaran live. Sipp….jawab kami seerentak…..(ntah serentak semua ato enggak yang pasti semua menyetujui syarat yang kedua tersebut).


Nah syarat yang terakhir, tujuan tour harus sesuai budget yang ada (Ya iya dong…klo budgetnya lebih masa kami harus ngutang? Kan gak lucu jalan-jalan tapi ngutang).  Kami semua mulai mengerinyitkan kening nihhh…mulai mikir, kemana enaknya tujuan tour kami yang perdana ini.  Berbagai usulan dilontarkan.  Mulai dari tour ke daerah sumbar seperti divisi lain hingga tour ke Yogyakarta.  Dengan pertimbangan jika tour ke Sumbar, transportasi disediakan oleh kantor sehingga kami hanya menanggung uang makan dan penginapan saja.  Sementara jika tour ke Yogyakarta, kami hanya menanggung transportasi dan makan saja sementara penginapan bisa numpang di rumah wakil manager yang kebetulan anaknya kuliah di sna.  Akhirnya jogyapun jadi tujuan utama dgn tambahan syarat, dicek terlebih dahulu harga tiket ke jogya.  Klo budget mencukupi kami berangkat.  Klo tidak yahhh terpaksa sumbar jadi pilihan terakhir.  Dan tugas mengecek tiketpun diserahkan kepada saya.  Ya saya…..bukan pada agen tiket atau agen travel…maklum klo pake kedua agen itu bisa ada tambahan biaya lagi.  Rapatpun selesai.


Setelah itu saya pun memulai pencarian tiket tersebut.  Wow..wow..wow…tiket ke jogya mahal. Walopun disaat harga tiket promo, budget yg ada tetap saja tidak mencukupi untuk ke sana.  Dan Walaupun manager berjanji akan menambah jika ada sedikit kekurangan namun tetap saja untuk kesana menghabiskan dana yang sangat jauh dari budget. “Gak mungkin-gak mungkin,” ujar ku.  Yahhhh….kawan2 pada kecewa…..maaf-maaf..pencarian gagal. 


Keberuntungan kedua pun akhirnya menampakkan diri, wujudnya seperti apa? Nah ini ceritanya. Suatu saat, iseng-iseng ku lirik penerbangan air asia, dan wow… ada tiket untuk pku – kl seharga 119 ribu rupiah. Setelah ku hhitung-hitung termasuk hotel dan akomodasi semua sesuai budget.  Wah berita bagus ini.  Akhirnya kami rapat lagi, lagi dan lagi hingga kesimpulan akhirnya tour disepakati ke kuala lumpur malaysia dengan catatan beberapa orang tidak ikut dalam tour karena sesuatu dan lain hal. So…tour dibuat hanya 1 rombongan.  Tapi, masihh ada tapinya…..bagi yang belum pnya passport harus segera membuat passport dgn biaya ditanggung sendiri…(hmm ya iyalah masa ditanggung orang lain).  Semua sepakat, dan untuk pengurusan passport para kru juga diserahkan tanggung jawab kepada aku.  What?? aku lagi….? Oh My God….okey..okey…no problem..karena passport lama ku juga telah mati di tahun 2007 lalu, maka aku juga bakal mengurus passport.  Jadi ya sekalian. Dan tiket pesawat air asia plus hotelpun dipesan en dibayar. Yesss!!!

Saturday, August 17, 2013

Nasehat

Nasehat dari seorang teman:

"Jangan dendam, Ikhlaskan saja pelan-pelan.  Jangan rusak hati mu karena orang lain.  Nanti juga hilang sakitnya bersama waktu..."

Tuesday, August 13, 2013

Sajak dari Batas Negara

Wisnu Pamungkas

Kutemukan bocah di batas Negara
Dengan tancut rusak dan seragam pramuka
Ayahnya kuli batu di Sibu, sedangkan ibu sibuk ikut program PKK
Dia cuma sederet angka di Kantor Statistik Republik Indonesia

Kutemukan dia di batas negara
Kelasnya kosong, kursi pun sisa satu saja
Muridnya 2 orang, dia bilang lebih dari 30 sudah eksodus ke Malaysia
“Mereka bilang, school di sini tidak menarik, yang tinggal cuma orang gila”.
Mata ibu guru honorer itu berkaca-kaca saat bercerita

Kutemukan Apai*) di batas Negara
Rumah panjangnya masih seperti 10 tahun silam, tanpa listrik juga
Di ruang tamu tergantung gambar Sultan Brunei ketika masih muda,
Photo ketua Mentri Sarawak juga ada di sana
“Apa kabar Pancasila anak muda, apakah dia sudah berkeluarga?”
Aku terjengkang dari dia punya beranda

Kutemukan seorang sarjana muda di Badau**)
Karena punya IC Malaysia dia bisa belajar di UTM
Kini terpaksa pulang ke tanah air karena diusir mertua
Tapi dia punya anak ogah sekolah di kota Kecamatan
"Istriku hanya mau memasak dengan gas Petronas sahaja," katanya
Kutemukan seorang wartawan naik Hilux illegal di sana
Dia memotret kantor camat reot dan para anggota Muspika
Besok dia mengirim email ke bosnya yang juga Ketua partai terkemuka
“Tahun berapa sebenarnya Indonesia Merdeka?”
Puring Kencana, 16 Pebruari 2012

*) Apai adalah ayah dalam bahasa Dayak Iban
**) Badau adalah nama sebuah Kecamatan di Kapuas Hulu yang berbatasan langsung dengan Lubuk Antu, Sarawak Malaysia

Thursday, March 21, 2013

Untuk mereka yang mau berhenti sejenak di tengah-tengah

ingatkan saya untuk tidak melihat hanya dari satu sisi
ingatkan saya untuk cari tahu kebenaran 
ingatkan saya untuk mau bertoleransi
ingatkan saya untuk tidak mencuri-curi kesempatan di hiruk pikuk kekacauan
ingatkan saya untuk mau berkepala dingin
ingatkan saya untuk mau sedikit saja membuka pikiran
ingatkan saya untuk melihat setitik kebenaran dari kesalahan
ingatkan saya untuk melihat setitik kebaikan di dalm sekotak keburukan

ingatkan saya untuk selalu berada di tengah-tengah sejenak dan berpikir dan mengerti 

Wednesday, January 30, 2013



bingung mo ngepost apaan...
akhirrnya utak atik photo2 lama....saat hari jadi bahana ke 25 tahun di hotel Ibis pekanbaru
Sari, fitcool dan refni...kpn kita kumpul2 lagi...?

Tragedi

Nemu artikel menarik mengenai kerukunan umat beragama, eh taunya sang penulis adalah pemberi materi saat diklat jurnalistik semasa kuliah dulu. 

Tragedi
Oleh Juwendra Asdiansyah
 
 Jerusalem, 9 September 2003.
“Adakah tragedi yang lebih getir dari ini semua?” Shubert Spero tecenung. Air matanya belum lagi surut. Dalam duduk shiva ia menatap jauh. Tak pernah usai pikirnya, “Bagaimana mungkin seseorang yang selalu bergegas ke TKP dan menangani para korbannya bisa ikut menjadi korban?”
Selasa malam itu, memang bukan milik anak tiri Shubert, David Applebaum, dan putri David, Naava Applebaum, juga lima manusia lainnya. Malam ketika seorang pemuda 22 tahun, ledakkan dirinya dengan sebuah bom, hanya beberapa meter dari tempat David dan Naava berdiri di Kafe Hillel. David adalah dokter yang selama bertahun-tahun, selalu paling gegas ke lokasi ledakan bom, berusaha selamatkan nyawa para korban. Nyawa, yang manakala gerbang barzah kembali dibuka, sesungguhnya tak pernah kuasa diselamatkan oleh tangan siapa pun. Juga oleh tangan-tangan cekatan David, oleh pengalamannya nan berbilang tahun. 

Ya, waktu penjemputan telah sampai. Bom bunuh diri itu, berikan bentuk kepada peristiwa ajal untuk David, Naava, dan lima manusia lainnya. El maut, tak pernah punya kata tunda dalam sibuknya. Kematian itu niscaya, pada kala yang sudah tiba. Namun, kadang sering ada tanya diucap, terlontar begitu saja: kenapa harus tragedi yang membungkusnya? Bukankah setiap orang berhak inginkan lagu kematian paling syahdu sekalipun?

Dan, tragedi selalu sisakan lebih satu kisah. Seperti kisah Yitzhak putra David tentang penyeranta sang ayah. Benda yang dia dan anggota keluarga lainnya selalu dengar bunyinya tiap kali kabar ledakan bom tiba di telinga. Tapi, “Kali ini penyeranta itu tidak berbunyi, (alat itu) meledak bersama Abba,” kata Yitzhak. Ah, adakah tragedi yang lebih getir dari ini semua? 

Gaun pengantin putih mutiara, masih menggantung berbungkus plastik di lantai atas rumah. Naava nan cantik tak akan pernah mengenakannya. Esoknya, Rabu itu, harusnya menjadi hari paling bahagia baginya: menikah. Ah, Naava, tiba-tiba saya jadi bayangkan calon suamimu. Adakah tragedi lebih pilu dari ini semua dalam sejarah hidupnya? Ditinggal mati calon istri, kekasih buaian hati, beberapa jam saja jelang ikrar setia di altar suci! Pesta di bawah siraman cahaya bulan pun lenyap tersaput angin...
***
Maka, rutuk dan serapah adalah tajuk pada kisah berikutnya. Saya belum katakan: bahwa pemuda peledak bom, adalah pemuda dari sebuah bangsa nun di Jazirah Arab sana. Bangsa bernama Palestina. Sedangkan, David, Naava, dan korban lainnya, adalah manusia dengan takdir menjadi Yahudi. Bangsa yang dulu tertindas, tersingkir, terusir, lalu pergi, lalu ‘menemukan’ sebuah tanah, lalu mengklaimnya sebagai entitasnya, bangsanya, negaranya, dan menamainya: Israel.

Bagi bangsa Israel, menyebut manusia-manusia Palestina sebagai “orang-orang Palestina” sudah jauh sangat layak. Bagi mereka, Palestina bukan bangsa. Bukan negara. Bahkan, jika perlu takkan disebut “orang-orang di Palestina”. Mereka tiada pernah rela ada kata “di” di depan “Palestina”. Karena, “di” bermakna pengakuan. Pengikhlasan yang sama sekali tiada ikhlas, atas sebuah entitas, atas bangsa, atas negara! Palestina, bagi mereka cukup menjadi nama salah satu “jenis manusia” saja. Tanpa bangsa, tanpa negara. Dan, jika perlu (jenis itu) dihabisi. Dilenyapkan dari ruang peradaban. 

Bagi Israel, David Applebaum adalah pahlawan.. Monumen terorisme para ‘penjahat’ Palestina. Kamus mereka menyebut si pemuda sebagai teroris, sebagaimana puluhan, ratusan, ribuan orang Palestina yang juga pernah menulis skenario, sutradara, sekaligus pemain dari apa yang mereka sebut terorisme itu. Dan karenanya, menjadi halal bagi mereka untuk ‘balas’ membunuh orang-orang Palestina. Lalu bersepakatlah kabinet Ariel Sharon untuk melenyapkan, bahkan bersiasat membunuh Yasser Arafat nan mulia—manusia, yang puluhan tahun hidupnya diserahkan bagi perjuangan, kemerdekaan, dan kemaslahatan bangsa Palestina yang terus tertindas. “Membunuhnya (Arafat) secara pasti merupakan salah satu pilihan!” kata Ehud Olmert, seorang kaki tangan utama Sharon di kabinet, tanpa beban.

Dunia ini memang etalase para pelupa. Demikian Sharon yang tentu lupa pada peristiwa dua tahun sebelumnya, ketika tangan zionisnya berdarah-darah, bunuhi puluhan muslim Palestina di sebuah masjid! Entahlah, apakah orang-orang seperti Sharon, Olmert, atau Shamir, Rabin, Netanyahu, para Yahudi itu lebih pantas disebut “pelupa” atau “pendendam”. Lupakah mereka ketika pada awal abad lalu terusir dari tanah Jerman dan Polandia oleh Nazi, oleh Hitler yang kejam? Dendamkah mereka ketika jutaan Yahudi dibantai, dikuliti, lalu dijadikan sabun di Kamp Auswizth di Austria yang dingin. Entahlah. Lupa dan dendam, sesungguhnya kata yang harusnya sama sekali tak sama. Namun, kenapa mereka kadang menjadi mirip. Serupa. Apa karena keduanya selalu bersama? Ini lah pula yang terjadi pada si jelata yang menjadi kaya, bos legislatif, bos eksekutif, tokoh papan atas, atas segalanya (maaf kepada Iwan Fals), yang ganti menindas si jelata lainnya. Itu, kaum yang menjadi identitasnya sejak lama. Lupakah? Atau dendamkah?

Dan sayangnya, kenapa bagi Israel, manifestasi kelupaan, atau kedendaman yang mesti berbalas itu, tak mengenal istilah impas. Kenapa untuk dapat nol bukan tujuh dikurang tujuh? Tapi tujuh dikurang sepuluh. Lima puluh. Seratus kalau perlu! Tujuh ‘orang biasa’ Israel, mesti dibayar oleh nyawa besar Yasser Arafat yang tentu tidak bernilai satu. Bahkan tujuh sekalipun. Satu nyawa Arafat, adalah seribu, bahkan sejuta nyawa warga Palestina yang teramat mencintainya. 

Setiap kali, dalam puluhan tahun, orang-orang Palestina, para pejuangnya, cuma bunuh ‘satu-satu’ orang Yahudi. Bahkan, pemuda-pemuda hanya ekspresikan marah dengan intifada, dengan batu-batu tiada tembus di badan. Pada mereka ini, bersemayam cita-cita bangsa Palestina yang lebih dari apapun tentang kisah kemerdekaan bangsanya. Negaranya. Kalau toh mereka harus teteskan darah, itu bukan semangat penaklukan. Apalagi zionisme. Bukan. Itu bukan nafsu penguasaan atas Gaza, Jericho, atau Tepi Barat. Itu, perjuangan, adalah ideologi. Cuma itu yang mereka punya. Mereka punya banyak teman: bangsa Arab lainnya, negara-negara Islam lainnya. Namun para teman ini terlalu pemalu (kalaulah tak hendak disebut penakut) untuk kobarkan pembelaan atas Palestina.

Bagi para pejuang Palestina, cita-cita adalah mutiara. Matahari, bahkan. Karenanya, kesulitan dan bahaya adalah madu, adalah bunga. Adalah cinta. Adalah romantika. Ini gelora para pejuang sejati, di manapun. “La montana es algo mas que una inmensa estepa verde!” Pegunungan adalah sesuatu yang lebih dari stepa hijau yang maha luas. Ini lah yang lalu terucap dari Omar Cabezas, comandante guerillero para gerilyawan Front Sandinista di Nikaragua era 80-an. Dalam Fire from the Mountain, Cabezas risalahkan kesaksian yang memukau tentang apa arti hidup dalam perjuangan sebagai sesuatu yang indah, karena tujuan dan arti hidup tak cuma pada kenikmatan diri, tapi pada kesetiakawanan dan pengorbanan untuk sesuatu yang lebih besar: sebuah cita-cita untuk bebaskan si tertindas.
***
Mei-Juni 2008.
Ini bukan soal agama. Bukan konflik antaragama. Begitu, banyak orang, politikus, juga ulama, kiai, habib, gus, ajengan, pun pendeta, pun rahib, pun biksu berapologi. Hal yang sama juga dihadirkan untuk menjelaskan genocide di Bosnia, tragedi Chehnya, atau Kosovo. Juga ketika pemuda-pemuda pintar anak buah Mohammad Atta di Al Qaida, tabrakkan pesawat-pesawat ke jantung simbol kapitalisme Amerika. Juga ketika Amerika dan sekutunya hancurkan Taliban atau Osama di Afghanistan, lalu Ba’ath atau Saddam Hussein di Irak. Juga ketika lebih 180 ruh lepas dari jasadnya di Legian, Bali atas kerja panjang Amrozi, dan kawan-kawannya. Lalu bom Marriot. Bukan agama! Itu konflik sosial! Masih itu yang terus diucap di media.

Ah, terlalu lama rasanya kita dipukau oleh sebuah jargon: kerukunan antar umat beragama! Konon, jati diri setiap agama. Tapi, tolong jelaskan tentang insiden Batu Merah Ambon, banjir darah Poso, tragedi Ketapang, Kupang....Sukabumi, dan lalu Monas! Agama adalah jalan kebenaran hakiki. Jembatan nan suci. Namun, kenapa atas nama agama pula, tragedi kadangkala menemukan jalannya? Agama, seolah pengesahan sebuah kekerasan. Kemajemukan adalah basa-basi. Bahkan ilusi. Cuma merayap di ruang penataran, diskusi, dan buku-buku cai bucai. Perbedaan adalah darah. Dan, lakum dinukum waliyadin lantas (cuma) jadi mantra. 

Maka, saya teringat kepada Bung Karno. Nasionalis nglotok, dan syahdan, bukan Islam yang totok. Bukan cendikiawan kaliber Al Azhar, bukan habib, ka-ha, gus, tuan guru atau ajengan. Namun dengarlah akunya suatu kali: “...Saya pun adalah orang Islam. Maaf beribu maaf, keislaman saya jauh belum sempurna. Tetapi kalau Saudara membuka saya punya dada, dan melihat saya punya hati, Tuan-Tuan akan dapati tidak lain tidak bukan, hati Islam. Dan hati Islam Bung Karno ini ingin membela Islam dalam mufakat, dalam permusyawaratan!” Entahlah, saya berkeyakinan bahwa si Bung punya keluasan pandang lebih jauh daripada bos para kiai dan pucuk para pastur sekalipun, tentang perbedaan agama. Dalam dan antar agama. Tentang apa itu: “toleransi umat beragama”. Bukan: tragedi umat beragama![]
 

Tuesday, January 29, 2013

Isyarat

Suatu malam di sebuah rumah, seorang anak usia tiga tahun sedang
Beberapa jam setelah itu, anak kecil tadi lagi-lagi menyimak suara
Di antara kedewasaan melakoni hidup adalah kemampuan menangkap dan
menyimak sebuah suara.  "Ting...ting. ..ting! Ting...ting. ..ting!"
Pikiran dan matanya menerawang ke isi rumah. Tapi, tak satu pun yang
pas jadi jawaban.  "Itu suara pedagang bakso keliling, Nak!" suara sang ibu menangkap
kebingungan anaknya. "Kenapa ia melakukan itu, Bu?" tanya sang anak
polos. Sambil senyum, ibu itu menghampiri. "Itulah isyarat. Tukang
bakso cuma ingin bilang, 'Aku ada di sekitar sini!" jawab si ibu lembut.
asing. Kali ini berbunyi beda. Persis seperti klakson kendaraan.
"Teeet...teeet. ...teeet! "  Ia melongok lewat jendela. Sebuah gerobak dengan lampu petromak
tampak didorong seseorang melewati jalan depan rumahnya. Lagi-lagi,
anak kecil itu bingung. Apa maksud suara itu, padahal tak sesuatu pun
yang menghalangi jalan. Kenapa mesti membunyikan klakson. Sember lagi!
"Anakku. Itu tukang sate ayam. Suara klakson itu isyarat. Ia pun
cuma ingin mengatakan, 'Aku ada di dekatmu! Hampirilah!" ungkap sang
ibu lagi-lagi menangkap kebingungan anaknya. "Kok ibu tahu?" kilah si
anak lebih serius. Tangan sang ibu membelai lembut rambut anaknya.
"Nak, bukan cuma ibu yang tahu. Semua orang dewasa pun paham itu.
Simak dan pahamilah. Kelak, kamu akan tahu isyarat-isyarat itu!" ucap
si ibu penuh perhatian. **

Memahami isyarat, tanda, simbol, dan sejenisnya. Mungkin, itulah bahasa
tingkat tinggi yang dianugerahi Allah buat makhluk yang bernama manusia.
Begitu efesien, begitu efektif. Tak perlu berteriak, tak perlu
menerabas batas-batas etika; orang bisa paham maksud si pembicara.
Cukup dengan berdehem 'ehm' misalnya, orang pun paham kalau di ruang
yang tampak kosong itu masih ada yang tinggal.
Di pentas dunia ini, alam kerap menampakkan seribu satu isyarat.
Gelombang laut yang tiba-tiba naik ke daratan, tanah yang bergetar
kuat, cuaca yang tak lagi mau teratur, angin yang tiba-tiba mampu
menerbangkan rumah, dan virus mematikan yang entah darimana
sekonyong-konyong hinggap di kehidupan manusia.
Itulah bahasa tingkat tinggi yang cuma bisa dimengerti oleh mereka
yang dewasa. Itulah isyarat Tuhan: "Aku selalu di dekatmu, kemana pun
kau menjauh!"
Simak dan pahamilah. Agar, kita tidak seperti anak kecil yang cuma
bisa bingung dan gelisah dengan kentingan tukang bakso dan klakson
pedagang sate ayam. (muhammadnuh@ eramuslim. com)

Monday, January 28, 2013

HUKUM TRUK SAMPAH

Suatu hari saya naik sebuah taxi dan menuju ke Bandara. Kami melaju pd jalur
yg benar ketika tiba-tiba sebuah mobil hitam melompat keluar dr tempat
parkir tepat di depan kami. Supir taxi menginjak pedal rem dalam-dalam
hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa cm dari mobil
tersebut.Pengemudi mobil hitam tsb mengeluarkan kepalanya & memaki ke arah
kami. Supir taxi hanya tersenyum & melambai pada orang tersebut.


Saya sangat heran dgn sikapnya yg bersahabat. saya bertanya, "Mengapa anda
melakukannya? Orang itu hampir merusak mobil anda dan dapat saja mengirim
kita ke rumah sakit!"Saat itulah saya belajar dr supir taxi tsb mengenai apa
yg saya kemudian sebut "Hukum Truk Sampah".


Ia menjelaskan bahwa byk orang seperti truk sampah. Mrk berjalan keliling
membawa sampah, seperti frustrasi, kemarahan, kekecewaan. Seiring dgn
semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat utk
membuangnya, & seringkali mereka membuangnya kpd anda. Jgn ambil hati,
tersenyum saja, lambaikan tangan, berkati mereka, lalu lanjutkan hidup.


Jgn ambil sampah mereka utk kembali membuangnya kpd orang lain yang anda
temui, di tempat kerja, di rumah atau dlm perjalanan.Intinya, orang yg
sukses adalah orang yang tidak membiarkan "truk sampah" mengambil alih
hari-hari mereka dgn merusak suasana hati.


Hidup ini terlalu singkat utk bangun di pagi hari dgn penyesalan, maka
kasihilah orang yg memperlakukan anda dgn benar, berdoalah bagi yg
tidak. Hidup itu 10% mengenai apa yg kau buat dengannya dan 90% ttg
bagaimana kamu menghadapinya.Hidup bukan mengenai menunggu badai berlalu,
tapi ttg bagaimana belajar menari dlm hujan.


Selamat menikmati hidup...

Thursday, January 24, 2013

Berbicara dengan Hati, Bukan Jari

"Matikan komputermu. Matikan juga ponselmu. Dan perhatikan manusia di sekelilingmu."
-- Eric Schmidt, CEO Google

ADIL jengkel betul dengan istrinya. Sepanjang liburan akhir pekan keduanya sepakat memilih beristirahat di rumah. Lima hari bekerja membuat mereka ingin melemaskan otot-otot. Sekaligus tentu saja mempererat tali cinta diantara mereka berdua. Maklum, mereka belum lagi genap dua tahun menikah. Buah hati yang menjadi dambaan mereka tak kunjung datang. Mungkin Yang Di Atas belum memberikan mereka kepercayaan. Begitu keduanya menghibur diri.

Tapi akhir pekan yang seharusnya indah justeru berubah menyebalkan. Seharian Anita, sang istri, hanya berada di kamar. Mungkin saja letih. Dia ingin istirahat penuh. Namun yang membuatnya jengkel, Anita terus menggenggam gadget kesayangannya. Anita kadang tertawa sendiri. Sampai kadang dia tak ingin jauh dari colokan listriknya. Gadget kesayangannya itu sering kehilangan tenaga, sehingga terpaksa harus dicharge.

Adil geleng-geleng kepala. Namun Anita cuek bebek. Katanya, dia sedang asyik mengobrol dengan teman yang lama tak dijumpainya. Bertemu di jejaring sosial facebook, mereka kemudian bertukar nomor PIN. Lalu itulah yang terjadi, mereka mengobrol ngalor-ngidul sesuka hati. Adil pun memilih untuk keluar rumah dan mengobrol dengan tetangga.

Ponsel cerdas itu menjadi booming di dunia, termasuk Indonesia. Apalagi setelah beberapa tokoh dunia dan seleb memakainya juga. Kelebihan menggunakan gadget ini dibandingkan dengan ponsel biasa memang beragam, misalnya saja layanan push mail, menerima dan membalas email yang masuk pada saat itu juga. Atau mengambil foto dan mengirimkannya ke handai taulan di luar negeri dalam sekejap. Lalu ada pula fasilitas chatting, browsing, hingga fasilitas online berbagai situs jejaring sosial. Kedekatan seseorang di dunia maya seakan-akan tidak lagi terpisahkan oleh ruang dan waktu. Tak aneh bila kemudian muncul istilah, 'mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.'

Namun memakai gadget ini bukan tak ada kekurangannya sama sekali. Contohnya, ya itu, interaksi antara Adil dan Anita menjadi tak nyaman. Ketika seseorang berasyik masyuk dengan dirinya dan dunianya sendiri, serta tidak memperdulikan lingkungan sekitar, apalagi menjadikannya sebagai ketergantungan yang sangat, maka menurut anak zaman sekarang dikatakan terkena 'gejala autis'. Tapi bukankah merujuk peribahasa, 'man behind the gun', bahwa baik-buruknya penggunaan teknologi tergantung si pemakainya? Betul. Bila pemakainya memakai dengan bijak, tentu tak masalah. Sebaliknya pun demikian.

Tapi nyatanya memang, menurut penelitian, ketergantungan akan gadget menyebabkan seseorang menjadi tak fokus. Bahkan para uskup senior di Liverpool, Inggris menantang umatnya untuk berpuasa teknologi selama 40 hari. Mereka mendorong masing-masing orang untuk memangkas penggunaan karbon dengan tidak memakai sejumlah gadget. Tingkat ketergantungan pemakai gadget memang sungguh luar biasa. Hingga muncul istilah, 'it is heaven for business owners, but hell for employees'.

Gadget dibuat dengan tujuan membantu si pemakainya. Untuk menjadikan urusan berjalan dengan efektif dan efisien. Ambil satu contoh, misalnya saja ketika diadakan rapat penting. Saat dalam rapat membutuhkan komunikasi rahasia di antara peserta rapat, tentu saja cara yang cerdas dengan menggunakan gadget yang tersedia.

Tetapi pada kenyataannya, yang kerap kita jumpai, teknologi yang awalnya dirancang untuk membantu kehidupan manusia, malah justeru membuat kita semakin menjauh satu dengan lainnya. Menjauh dari orang-orang yang kita kasihi, dan menjauh pula dari Tuhan yang sesungguhnya dekat dengan kita.

Dengarlah apa yang dikatakan Eric Schmidt, CEO Google, dalam pidatonya di University of Pennsylvania, Amerika Serikat, pada 18 Mei 2009 lalu dihadapan enam ribu wisudawan. Schmidt berujar, "Matikan komputermu. Matikan juga ponselmu. Dan perhatikan manusia di sekelilingmu." Schmidt mengatakan demikian setelah melihat banyaknya kaum muda yang hanya terpaku pada dunia virtual di internet. Seakan tak peduli untuk berelasi dengan orang lain.

Itulah yang dirasakan Adil sekarang. Ia merasa jauh sekali dari istrinya. Adil sesungguhnya tak menuntut lebih dari Anita. Adil hanya ingin Anita menghentikan sekali saja pada saat mereka berada di rumah. Apalagi disaat-saat mereka sedang berdua atau liburan. Baginya komunikasi yang baik bukan lagi semata dengan jari-jari, walau teknologi sudah maju. Berbicara dengan tatap muka, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh tentu lebih memanusiakan diri.

Kita seharusnya memang dapat berhenti sejenak dari kegaduhan dunia virtual dan kembali pada 'habitatnya' sebagai makhluk sosial.

Oleh: Sonny Wibisono *