Sunday, December 23, 2012
Senjakala Jurnalisme
saat browsing-browsing nemu tulisan bagus, sedikit mengingatkan tentang ilmu jurnalistik yang telah aku tinggalkan........ lama sekali....
Senjakala Jurnalisme
Senjakala Jurnalisme
Beliau yang saya anggap sebagai guru --dan tak boleh disebutkan namanya, meminta waktu menjelang akhir sesi. "10 menit saja," katanya. Dipersilahkan. Dan memang sepuluh menit seperti yang dia minta, kurang lebih.
Dengan segala hormat dan tanpa seizinnya, saya mengutip ucapannya di sini. Beliau bicara tentang data trap, jebakan data. Ketika berita kambing berkaki lima dianggap jauh lebih penting daripada isu kemiskinan, maka kita telah masuk dalam jebakan data; sesuatu yang semestinya harus dihindari jika kita masih merasa jurnalis. Demikian kata beliau dalam raker TV saudara muda kita tempo hari, kurang lebih juga, karena hanya mengandalkan ingatan saya yang terbatas.
Belakangan ini, perdebatan tentang poligami Aa' Gym muncul di milis trans tercinta. Ramai dan panjang, seperti choki-choki, yang mengerucut pada pertanyaan pantas atau tidak berita poligami Aa' itu masuk dalam buletin. Saya tidak ingin terlibat dalam perdebatan, cukuplah bagi saya menjadi penonton saja dari dalam kotak RCD ini. Tapi, Mas Didit bertanya masih adakah yang mengingat news value keseluruhan, dan baru sadar ternyata saya masuk dalam kategori yang tidak ingat. Saya hanya ingat beberapa.
Di kampus saya dulu, ada tradisi seorang wisudawan wajib menyerahkan buku teks kuliah kepada perpustakaan untuk ditukar dengan ijazah tanda kelulusan. Saya juga melakukan itu dan menyerahkan buku-buku kuliah saya, termasuk buku yang ada pelajaran news value-nya itu. Pikir saya waktu itu, toh nanti buku-buku itu akan menjadi usang dan semua isi beserta teori-teorinya akan teredefinisi sesuai zaman. Ini keniscayaan.
"Anjing menggigit orang bukan berita, tapi orang menggigit anjing itulah berita," demikian news value zaman batu menyatakan. Lalu zaman baru meredefinisinya, bagaimana kalau orang yang digigit anjing itu Presiden Washington, misalnya? Para ahli sepakat itu berita, lalu muncul satu news value baru: prominent (ketokohan).
Demikianlah news value bertambah mengkuti zaman, dan juga berkurang. Di zaman orde baru, para tokoh pers membuat aturan tambahan news value, semata-mata karena mereka harus berhati-hati. Peristiwa yang nyata-nyata kaya news value tidak serta merta bisa diangkat sebagai berita. Ada self-censorship yang punya nama indah: MISS SARA. Sebuah berita tidak boleh Menghasut, Insinuasi, Sensual, Sensasional, dan menyinggung Suku, Agama, Ras, dan Antar-Golongan. Setelah melewati saringan itu, sebuah berita baru fit to print.
Tapi lihatlah, makin kesini, saringan itu berkurang. Insinuasi masuk ke dalam berita. Sensual dan sensasional apalagi, jangan ditanya!
Jurnalis(me) adalah pekerjaan profesional. Menurut buku, profesional setidaknya harus memiliki 4 syarat: ada basic science, punya kode etik, berorientasi kepada publik, dan punya organisasi profesi. Itulah yang membedakan kita --kita? :-)-- dengan tukang becak. Tukang becak mungkin punya organisasi profesi, tapi mana ada yang punya kode etik. Karena itu pula kenapa jurnalis disejajarkan dengan profesional lain. Saking spesialnya, jurnalis punya pengecualian dalam konsep equality before the law. Jurnalis punya hak tolak, seperti halnya dokter, akuntan dan pengacara.
Dan karena beorientasi kepada publik, maka profesi jurnalis penting memiliki kode etik. Dalam praktek jurnalisme sendiri, kode etik resmi tidak hanya satu, ada kode etk PWI, AJI, IJTI, dsb-nya. Tapi pada dasarnya semua tujuannya sama, mencegah penyelewengan. Pelanggaran kode etik tidak memiliki implikasi perdata atau pidana, melainkan hanya "sekadar" hukuman moral dan sosial. Kalau kita main amplop, kita tidak akan dipenjara, tapi kita bukan wartawan yang baik menurut masyarakat dan panduan moral kita.
Masalahnya, punyakah kita di sini? Dan kalaupun punya, bersediakah kita mematuhinya?
Pak Ishadi, pemimpin besar kita, beberapa hari yang lalu berjanji akan membuka kemungkinan kita semua (news trans dan trans 7) duduk bersama untuk mebahas kode etik kita sendiri. Beliau mencontohkan, wartawan CNN yang dipecat karena menayangkan berita pembunuhan Ennis William Cosby, putra komedian Bill Cosby, yang dirampok dan terbunuh di sebuah jalan di Los Angeles pada 16 Januari 1997. Saya tidak memamahami di mana kesalahannya. Peristiwa pembunuhan, dan putra seorang aktor terkenal. Lengkaplah news value-nya. Tapi, masih menurut cerita Pak Is--(dengan segala bias pemahaman saya), wartawan itu dipecat karena memakai angle selebritas Bill Cosby, yang dianggap menyalahi kode etik CNN. Itu CNN, bagaimana dengan kita di sini?
Bisakah tindakan Aa' Gym berpoligami masuk ke dalam rundown berita kita semata-mata hanya karena dia orang terkenal? Perdebatannya menjadi panjang karena tak ada patokan yang jelas tentang itu. Kita pecah dalam dua kubu. Untunglah tidak ada keharusan untuk berpihak. Hehehehe...
Semoga segera tercerahkan. Sebelum kita benar-benar terperangkap dalam data trap dan kembali ke definisi berita paling purba: BERITA=NEWS. NEWS=North, East, South, West. Berita adalah semua kabar yang datang dari seluruh penjuru mata angin. Apapun itu. Seseorang berpoligami di Geger Kalong sana tiba-tiba menjadi penting bagi publik. Ini senjakala. Senjakala jurnalisme.
Dengan segala hormat dan tanpa seizinnya, saya mengutip ucapannya di sini. Beliau bicara tentang data trap, jebakan data. Ketika berita kambing berkaki lima dianggap jauh lebih penting daripada isu kemiskinan, maka kita telah masuk dalam jebakan data; sesuatu yang semestinya harus dihindari jika kita masih merasa jurnalis. Demikian kata beliau dalam raker TV saudara muda kita tempo hari, kurang lebih juga, karena hanya mengandalkan ingatan saya yang terbatas.
Belakangan ini, perdebatan tentang poligami Aa' Gym muncul di milis trans tercinta. Ramai dan panjang, seperti choki-choki, yang mengerucut pada pertanyaan pantas atau tidak berita poligami Aa' itu masuk dalam buletin. Saya tidak ingin terlibat dalam perdebatan, cukuplah bagi saya menjadi penonton saja dari dalam kotak RCD ini. Tapi, Mas Didit bertanya masih adakah yang mengingat news value keseluruhan, dan baru sadar ternyata saya masuk dalam kategori yang tidak ingat. Saya hanya ingat beberapa.
Di kampus saya dulu, ada tradisi seorang wisudawan wajib menyerahkan buku teks kuliah kepada perpustakaan untuk ditukar dengan ijazah tanda kelulusan. Saya juga melakukan itu dan menyerahkan buku-buku kuliah saya, termasuk buku yang ada pelajaran news value-nya itu. Pikir saya waktu itu, toh nanti buku-buku itu akan menjadi usang dan semua isi beserta teori-teorinya akan teredefinisi sesuai zaman. Ini keniscayaan.
"Anjing menggigit orang bukan berita, tapi orang menggigit anjing itulah berita," demikian news value zaman batu menyatakan. Lalu zaman baru meredefinisinya, bagaimana kalau orang yang digigit anjing itu Presiden Washington, misalnya? Para ahli sepakat itu berita, lalu muncul satu news value baru: prominent (ketokohan).
Demikianlah news value bertambah mengkuti zaman, dan juga berkurang. Di zaman orde baru, para tokoh pers membuat aturan tambahan news value, semata-mata karena mereka harus berhati-hati. Peristiwa yang nyata-nyata kaya news value tidak serta merta bisa diangkat sebagai berita. Ada self-censorship yang punya nama indah: MISS SARA. Sebuah berita tidak boleh Menghasut, Insinuasi, Sensual, Sensasional, dan menyinggung Suku, Agama, Ras, dan Antar-Golongan. Setelah melewati saringan itu, sebuah berita baru fit to print.
Tapi lihatlah, makin kesini, saringan itu berkurang. Insinuasi masuk ke dalam berita. Sensual dan sensasional apalagi, jangan ditanya!
Jurnalis(me) adalah pekerjaan profesional. Menurut buku, profesional setidaknya harus memiliki 4 syarat: ada basic science, punya kode etik, berorientasi kepada publik, dan punya organisasi profesi. Itulah yang membedakan kita --kita? :-)-- dengan tukang becak. Tukang becak mungkin punya organisasi profesi, tapi mana ada yang punya kode etik. Karena itu pula kenapa jurnalis disejajarkan dengan profesional lain. Saking spesialnya, jurnalis punya pengecualian dalam konsep equality before the law. Jurnalis punya hak tolak, seperti halnya dokter, akuntan dan pengacara.
Dan karena beorientasi kepada publik, maka profesi jurnalis penting memiliki kode etik. Dalam praktek jurnalisme sendiri, kode etik resmi tidak hanya satu, ada kode etk PWI, AJI, IJTI, dsb-nya. Tapi pada dasarnya semua tujuannya sama, mencegah penyelewengan. Pelanggaran kode etik tidak memiliki implikasi perdata atau pidana, melainkan hanya "sekadar" hukuman moral dan sosial. Kalau kita main amplop, kita tidak akan dipenjara, tapi kita bukan wartawan yang baik menurut masyarakat dan panduan moral kita.
Masalahnya, punyakah kita di sini? Dan kalaupun punya, bersediakah kita mematuhinya?
Pak Ishadi, pemimpin besar kita, beberapa hari yang lalu berjanji akan membuka kemungkinan kita semua (news trans dan trans 7) duduk bersama untuk mebahas kode etik kita sendiri. Beliau mencontohkan, wartawan CNN yang dipecat karena menayangkan berita pembunuhan Ennis William Cosby, putra komedian Bill Cosby, yang dirampok dan terbunuh di sebuah jalan di Los Angeles pada 16 Januari 1997. Saya tidak memamahami di mana kesalahannya. Peristiwa pembunuhan, dan putra seorang aktor terkenal. Lengkaplah news value-nya. Tapi, masih menurut cerita Pak Is--(dengan segala bias pemahaman saya), wartawan itu dipecat karena memakai angle selebritas Bill Cosby, yang dianggap menyalahi kode etik CNN. Itu CNN, bagaimana dengan kita di sini?
Bisakah tindakan Aa' Gym berpoligami masuk ke dalam rundown berita kita semata-mata hanya karena dia orang terkenal? Perdebatannya menjadi panjang karena tak ada patokan yang jelas tentang itu. Kita pecah dalam dua kubu. Untunglah tidak ada keharusan untuk berpihak. Hehehehe...
Semoga segera tercerahkan. Sebelum kita benar-benar terperangkap dalam data trap dan kembali ke definisi berita paling purba: BERITA=NEWS. NEWS=North, East, South, West. Berita adalah semua kabar yang datang dari seluruh penjuru mata angin. Apapun itu. Seseorang berpoligami di Geger Kalong sana tiba-tiba menjadi penting bagi publik. Ini senjakala. Senjakala jurnalisme.
Sunday, September 16, 2012
Mimpi Buruk Bernama Kolik
Saat awal menjadi orang tua baru adalah masa-masa tak terlupakan untuk kami. Bukan saja karena kehadiran seorang anggota keluarga baru mungil bernama Dayang Suri, Namun juga karena kami sama-sama clueless tentang ilmu parenting.
Awalnya..minggu-minggu pertama pasca melahirkan berjalan lancar-lancar saja. Dayang tidak lah rewel seperti yang aku khawatirkan. Malam hari dapat tidur dengan nyenyak. Bahkan Ibuku bilang, "Duh baik lakunya si dayang suri...". Namun memasuki minggu ke empat adalah hari yang memberatkan bagi kami, karena Dayang tidak berhenti menangis dan menjerit-jerit.
Setiap hari, Dayang bisa menangis lebih dari dua jam, terutama di malam hari. Tangisannya pun benar-benar memilukan, karena tidak bisa didiamkan meski kami sudah mencoba berbagai cara: disusui, digendong, dinyanyikan, bahkan didoakan!.
Kami sempat mengira Dayang kehausan dan ASI saya tidak cukup, sampai akhirnya saya pompa terus karena penasaran berapa sih yang dia minum setiap hari. Tapi ternyata Dayang tetap saja meraung-raung. Kadang kami sudah hampir hilang akal rasanya, dan benar-benar tidak berdaya.
A truly nightmare for all of us.
Akhirnya, setelah konsultasi dengan dokter, browsing sana-sini, kami mulai mendapat sedikit pencerahan, dan mengenal istilah baru: kolik.
Menurut wikipedia, kolik adalah kondisi di mana bayi yang sehat menangis terus-menerus tanpa ada penyebab pasti. Selama bertahun-tahun terjadi perdebatan di dunia medis tentang penyebab kolik. Yang paling umum adalah teori perut kembung/gastrointestinal. Penelitian juga menyebutkan, rata-rata 1 dari 5 bayi menderita kolik.
Ciri-ciri kolik:
- Menangis 3 jam sehari, selama 3 hari dalam seminggu, dan lebih dari 3 minggu berturut-turut (atau, dengan kata lain, menangis tanpa henti!), terutama di malam hari.
- Sering susah buang angin, sampai muka merah padam, sering gumoh bahkan sampai muntah, pencernaan tampak bermasalah.
- Perut kembung kalau ditekan, tidur juga gelisah.
- Kami mencoba segala cara untuk mengurangi penderitaan Dayang. Satu nasihat dari dokter adalah: Biarkan saja. Tidak ada cara untuk menghentikan atau menyembuhkan kolik. Yang bisa dilakukan adalah mengurangi rasa sakit bayi kita, dan yang penting, keep being sane! Ini hal-hal yang sudah kami coba dan cukup berhasil.
- Saat minyak telon sudah tidak memberi efek yang berarti, kami mencoba minyak kayu putih. Hasilnya, Dayang jadi lebih mudah buang angin dan tidak terlalu kesakitan lagi.
- Menggendong dengan posisi perut Dayang menghadap kita, jadi perutnya ditekan dengan dada kita. Saat tubuh Dayang mulai kuat, kami juga sering memangkunya dalam posisi tengkurap di atas paha.
- Kami mencoba beberapa saran untuk penghilang rasa sakit, sepertiobat kolik dari dokter. Tapi karena efeknya hanya sangat sebentar, kami berhenti memberikan obat-obatan untuk Dayang.
- Kalau sudah merasa frustrasi, cari orang untuk menggantikan kita. Saya dan suami sepakat untuk saling menggantikan jika salah seorang sudah merasa kurang “waras”. Keluar dari rumah sejenak juga membantu, meski kadang ada rasa bersalah dalam hati. .
- Browsing2 di internet, baca-baca tentang kolik. really, it helps to know that you’re not the only one experiencing this, and your baby is not abnormal!)
Yang paling penting, ingat saja kalau “this too, shall pass“. Meskipun awalnya tidak percaya, ternyata memang benar. Memasuki usia 5 bulan, Dayang sudah tidak kolik lagi, dan sekarang diusia 15 bulan sangat aktif, ceria, dan menyenangkan.
Yups, life is begining....hidup terasa berawal dari sini
Udah lama banget gak ngeblog, sekarang saat banyak waktu luang kepikiran lagi buat ngeblog sambil memandangi si kecil yang lagi tidur pulas. Si kecil...? Yups si kecil...serasa mimpi klo aku sudah punya si kecil. Rasanya baru saja berlalu hal-hal besar terjadi dalam hidup ku. Mulai dari menikah, hamil hingga melahirkan.
Menikah,
Banyak orang menggangap bahwa menikah adalah hal yang menjadi sebuah langkah hidup yang sangat berarti. Itu juga yang kurasakan. Yups, life is begining....hidup terasa berawal dari sini. Segalanya terasa berbeda. awalnya sedikit ragu untuk melangkah, siapkah aku menjalani semuanya? pertanyaan itu terus saja muncul setiap kali akan mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan pernikahan. Berbagai cobaan datang, mulai dari penentuan tanggal, proses lamaran hingga sehari sebelum hari H pernikahan. Segala bentuk cobaan dan halangan kuanggap sesuatu yang mewarnai hari-hari menjelang pernikahan tersebut berlangung. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Tepat tanggal 9 Januari 2010 aku dan dodi melangsungkan akad nikah di rumah orang tua ku dan tanggal 10 januari kami mengadakan acara resepsi pernikahan tersebut.

Menikah,
Banyak orang menggangap bahwa menikah adalah hal yang menjadi sebuah langkah hidup yang sangat berarti. Itu juga yang kurasakan. Yups, life is begining....hidup terasa berawal dari sini. Segalanya terasa berbeda. awalnya sedikit ragu untuk melangkah, siapkah aku menjalani semuanya? pertanyaan itu terus saja muncul setiap kali akan mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan pernikahan. Berbagai cobaan datang, mulai dari penentuan tanggal, proses lamaran hingga sehari sebelum hari H pernikahan. Segala bentuk cobaan dan halangan kuanggap sesuatu yang mewarnai hari-hari menjelang pernikahan tersebut berlangung. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Tepat tanggal 9 Januari 2010 aku dan dodi melangsungkan akad nikah di rumah orang tua ku dan tanggal 10 januari kami mengadakan acara resepsi pernikahan tersebut.

Subscribe to:
Posts (Atom)



