Wednesday, January 30, 2013



bingung mo ngepost apaan...
akhirrnya utak atik photo2 lama....saat hari jadi bahana ke 25 tahun di hotel Ibis pekanbaru
Sari, fitcool dan refni...kpn kita kumpul2 lagi...?

Tragedi

Nemu artikel menarik mengenai kerukunan umat beragama, eh taunya sang penulis adalah pemberi materi saat diklat jurnalistik semasa kuliah dulu. 

Tragedi
Oleh Juwendra Asdiansyah
 
 Jerusalem, 9 September 2003.
“Adakah tragedi yang lebih getir dari ini semua?” Shubert Spero tecenung. Air matanya belum lagi surut. Dalam duduk shiva ia menatap jauh. Tak pernah usai pikirnya, “Bagaimana mungkin seseorang yang selalu bergegas ke TKP dan menangani para korbannya bisa ikut menjadi korban?”
Selasa malam itu, memang bukan milik anak tiri Shubert, David Applebaum, dan putri David, Naava Applebaum, juga lima manusia lainnya. Malam ketika seorang pemuda 22 tahun, ledakkan dirinya dengan sebuah bom, hanya beberapa meter dari tempat David dan Naava berdiri di Kafe Hillel. David adalah dokter yang selama bertahun-tahun, selalu paling gegas ke lokasi ledakan bom, berusaha selamatkan nyawa para korban. Nyawa, yang manakala gerbang barzah kembali dibuka, sesungguhnya tak pernah kuasa diselamatkan oleh tangan siapa pun. Juga oleh tangan-tangan cekatan David, oleh pengalamannya nan berbilang tahun. 

Ya, waktu penjemputan telah sampai. Bom bunuh diri itu, berikan bentuk kepada peristiwa ajal untuk David, Naava, dan lima manusia lainnya. El maut, tak pernah punya kata tunda dalam sibuknya. Kematian itu niscaya, pada kala yang sudah tiba. Namun, kadang sering ada tanya diucap, terlontar begitu saja: kenapa harus tragedi yang membungkusnya? Bukankah setiap orang berhak inginkan lagu kematian paling syahdu sekalipun?

Dan, tragedi selalu sisakan lebih satu kisah. Seperti kisah Yitzhak putra David tentang penyeranta sang ayah. Benda yang dia dan anggota keluarga lainnya selalu dengar bunyinya tiap kali kabar ledakan bom tiba di telinga. Tapi, “Kali ini penyeranta itu tidak berbunyi, (alat itu) meledak bersama Abba,” kata Yitzhak. Ah, adakah tragedi yang lebih getir dari ini semua? 

Gaun pengantin putih mutiara, masih menggantung berbungkus plastik di lantai atas rumah. Naava nan cantik tak akan pernah mengenakannya. Esoknya, Rabu itu, harusnya menjadi hari paling bahagia baginya: menikah. Ah, Naava, tiba-tiba saya jadi bayangkan calon suamimu. Adakah tragedi lebih pilu dari ini semua dalam sejarah hidupnya? Ditinggal mati calon istri, kekasih buaian hati, beberapa jam saja jelang ikrar setia di altar suci! Pesta di bawah siraman cahaya bulan pun lenyap tersaput angin...
***
Maka, rutuk dan serapah adalah tajuk pada kisah berikutnya. Saya belum katakan: bahwa pemuda peledak bom, adalah pemuda dari sebuah bangsa nun di Jazirah Arab sana. Bangsa bernama Palestina. Sedangkan, David, Naava, dan korban lainnya, adalah manusia dengan takdir menjadi Yahudi. Bangsa yang dulu tertindas, tersingkir, terusir, lalu pergi, lalu ‘menemukan’ sebuah tanah, lalu mengklaimnya sebagai entitasnya, bangsanya, negaranya, dan menamainya: Israel.

Bagi bangsa Israel, menyebut manusia-manusia Palestina sebagai “orang-orang Palestina” sudah jauh sangat layak. Bagi mereka, Palestina bukan bangsa. Bukan negara. Bahkan, jika perlu takkan disebut “orang-orang di Palestina”. Mereka tiada pernah rela ada kata “di” di depan “Palestina”. Karena, “di” bermakna pengakuan. Pengikhlasan yang sama sekali tiada ikhlas, atas sebuah entitas, atas bangsa, atas negara! Palestina, bagi mereka cukup menjadi nama salah satu “jenis manusia” saja. Tanpa bangsa, tanpa negara. Dan, jika perlu (jenis itu) dihabisi. Dilenyapkan dari ruang peradaban. 

Bagi Israel, David Applebaum adalah pahlawan.. Monumen terorisme para ‘penjahat’ Palestina. Kamus mereka menyebut si pemuda sebagai teroris, sebagaimana puluhan, ratusan, ribuan orang Palestina yang juga pernah menulis skenario, sutradara, sekaligus pemain dari apa yang mereka sebut terorisme itu. Dan karenanya, menjadi halal bagi mereka untuk ‘balas’ membunuh orang-orang Palestina. Lalu bersepakatlah kabinet Ariel Sharon untuk melenyapkan, bahkan bersiasat membunuh Yasser Arafat nan mulia—manusia, yang puluhan tahun hidupnya diserahkan bagi perjuangan, kemerdekaan, dan kemaslahatan bangsa Palestina yang terus tertindas. “Membunuhnya (Arafat) secara pasti merupakan salah satu pilihan!” kata Ehud Olmert, seorang kaki tangan utama Sharon di kabinet, tanpa beban.

Dunia ini memang etalase para pelupa. Demikian Sharon yang tentu lupa pada peristiwa dua tahun sebelumnya, ketika tangan zionisnya berdarah-darah, bunuhi puluhan muslim Palestina di sebuah masjid! Entahlah, apakah orang-orang seperti Sharon, Olmert, atau Shamir, Rabin, Netanyahu, para Yahudi itu lebih pantas disebut “pelupa” atau “pendendam”. Lupakah mereka ketika pada awal abad lalu terusir dari tanah Jerman dan Polandia oleh Nazi, oleh Hitler yang kejam? Dendamkah mereka ketika jutaan Yahudi dibantai, dikuliti, lalu dijadikan sabun di Kamp Auswizth di Austria yang dingin. Entahlah. Lupa dan dendam, sesungguhnya kata yang harusnya sama sekali tak sama. Namun, kenapa mereka kadang menjadi mirip. Serupa. Apa karena keduanya selalu bersama? Ini lah pula yang terjadi pada si jelata yang menjadi kaya, bos legislatif, bos eksekutif, tokoh papan atas, atas segalanya (maaf kepada Iwan Fals), yang ganti menindas si jelata lainnya. Itu, kaum yang menjadi identitasnya sejak lama. Lupakah? Atau dendamkah?

Dan sayangnya, kenapa bagi Israel, manifestasi kelupaan, atau kedendaman yang mesti berbalas itu, tak mengenal istilah impas. Kenapa untuk dapat nol bukan tujuh dikurang tujuh? Tapi tujuh dikurang sepuluh. Lima puluh. Seratus kalau perlu! Tujuh ‘orang biasa’ Israel, mesti dibayar oleh nyawa besar Yasser Arafat yang tentu tidak bernilai satu. Bahkan tujuh sekalipun. Satu nyawa Arafat, adalah seribu, bahkan sejuta nyawa warga Palestina yang teramat mencintainya. 

Setiap kali, dalam puluhan tahun, orang-orang Palestina, para pejuangnya, cuma bunuh ‘satu-satu’ orang Yahudi. Bahkan, pemuda-pemuda hanya ekspresikan marah dengan intifada, dengan batu-batu tiada tembus di badan. Pada mereka ini, bersemayam cita-cita bangsa Palestina yang lebih dari apapun tentang kisah kemerdekaan bangsanya. Negaranya. Kalau toh mereka harus teteskan darah, itu bukan semangat penaklukan. Apalagi zionisme. Bukan. Itu bukan nafsu penguasaan atas Gaza, Jericho, atau Tepi Barat. Itu, perjuangan, adalah ideologi. Cuma itu yang mereka punya. Mereka punya banyak teman: bangsa Arab lainnya, negara-negara Islam lainnya. Namun para teman ini terlalu pemalu (kalaulah tak hendak disebut penakut) untuk kobarkan pembelaan atas Palestina.

Bagi para pejuang Palestina, cita-cita adalah mutiara. Matahari, bahkan. Karenanya, kesulitan dan bahaya adalah madu, adalah bunga. Adalah cinta. Adalah romantika. Ini gelora para pejuang sejati, di manapun. “La montana es algo mas que una inmensa estepa verde!” Pegunungan adalah sesuatu yang lebih dari stepa hijau yang maha luas. Ini lah yang lalu terucap dari Omar Cabezas, comandante guerillero para gerilyawan Front Sandinista di Nikaragua era 80-an. Dalam Fire from the Mountain, Cabezas risalahkan kesaksian yang memukau tentang apa arti hidup dalam perjuangan sebagai sesuatu yang indah, karena tujuan dan arti hidup tak cuma pada kenikmatan diri, tapi pada kesetiakawanan dan pengorbanan untuk sesuatu yang lebih besar: sebuah cita-cita untuk bebaskan si tertindas.
***
Mei-Juni 2008.
Ini bukan soal agama. Bukan konflik antaragama. Begitu, banyak orang, politikus, juga ulama, kiai, habib, gus, ajengan, pun pendeta, pun rahib, pun biksu berapologi. Hal yang sama juga dihadirkan untuk menjelaskan genocide di Bosnia, tragedi Chehnya, atau Kosovo. Juga ketika pemuda-pemuda pintar anak buah Mohammad Atta di Al Qaida, tabrakkan pesawat-pesawat ke jantung simbol kapitalisme Amerika. Juga ketika Amerika dan sekutunya hancurkan Taliban atau Osama di Afghanistan, lalu Ba’ath atau Saddam Hussein di Irak. Juga ketika lebih 180 ruh lepas dari jasadnya di Legian, Bali atas kerja panjang Amrozi, dan kawan-kawannya. Lalu bom Marriot. Bukan agama! Itu konflik sosial! Masih itu yang terus diucap di media.

Ah, terlalu lama rasanya kita dipukau oleh sebuah jargon: kerukunan antar umat beragama! Konon, jati diri setiap agama. Tapi, tolong jelaskan tentang insiden Batu Merah Ambon, banjir darah Poso, tragedi Ketapang, Kupang....Sukabumi, dan lalu Monas! Agama adalah jalan kebenaran hakiki. Jembatan nan suci. Namun, kenapa atas nama agama pula, tragedi kadangkala menemukan jalannya? Agama, seolah pengesahan sebuah kekerasan. Kemajemukan adalah basa-basi. Bahkan ilusi. Cuma merayap di ruang penataran, diskusi, dan buku-buku cai bucai. Perbedaan adalah darah. Dan, lakum dinukum waliyadin lantas (cuma) jadi mantra. 

Maka, saya teringat kepada Bung Karno. Nasionalis nglotok, dan syahdan, bukan Islam yang totok. Bukan cendikiawan kaliber Al Azhar, bukan habib, ka-ha, gus, tuan guru atau ajengan. Namun dengarlah akunya suatu kali: “...Saya pun adalah orang Islam. Maaf beribu maaf, keislaman saya jauh belum sempurna. Tetapi kalau Saudara membuka saya punya dada, dan melihat saya punya hati, Tuan-Tuan akan dapati tidak lain tidak bukan, hati Islam. Dan hati Islam Bung Karno ini ingin membela Islam dalam mufakat, dalam permusyawaratan!” Entahlah, saya berkeyakinan bahwa si Bung punya keluasan pandang lebih jauh daripada bos para kiai dan pucuk para pastur sekalipun, tentang perbedaan agama. Dalam dan antar agama. Tentang apa itu: “toleransi umat beragama”. Bukan: tragedi umat beragama![]
 

Tuesday, January 29, 2013

Isyarat

Suatu malam di sebuah rumah, seorang anak usia tiga tahun sedang
Beberapa jam setelah itu, anak kecil tadi lagi-lagi menyimak suara
Di antara kedewasaan melakoni hidup adalah kemampuan menangkap dan
menyimak sebuah suara.  "Ting...ting. ..ting! Ting...ting. ..ting!"
Pikiran dan matanya menerawang ke isi rumah. Tapi, tak satu pun yang
pas jadi jawaban.  "Itu suara pedagang bakso keliling, Nak!" suara sang ibu menangkap
kebingungan anaknya. "Kenapa ia melakukan itu, Bu?" tanya sang anak
polos. Sambil senyum, ibu itu menghampiri. "Itulah isyarat. Tukang
bakso cuma ingin bilang, 'Aku ada di sekitar sini!" jawab si ibu lembut.
asing. Kali ini berbunyi beda. Persis seperti klakson kendaraan.
"Teeet...teeet. ...teeet! "  Ia melongok lewat jendela. Sebuah gerobak dengan lampu petromak
tampak didorong seseorang melewati jalan depan rumahnya. Lagi-lagi,
anak kecil itu bingung. Apa maksud suara itu, padahal tak sesuatu pun
yang menghalangi jalan. Kenapa mesti membunyikan klakson. Sember lagi!
"Anakku. Itu tukang sate ayam. Suara klakson itu isyarat. Ia pun
cuma ingin mengatakan, 'Aku ada di dekatmu! Hampirilah!" ungkap sang
ibu lagi-lagi menangkap kebingungan anaknya. "Kok ibu tahu?" kilah si
anak lebih serius. Tangan sang ibu membelai lembut rambut anaknya.
"Nak, bukan cuma ibu yang tahu. Semua orang dewasa pun paham itu.
Simak dan pahamilah. Kelak, kamu akan tahu isyarat-isyarat itu!" ucap
si ibu penuh perhatian. **

Memahami isyarat, tanda, simbol, dan sejenisnya. Mungkin, itulah bahasa
tingkat tinggi yang dianugerahi Allah buat makhluk yang bernama manusia.
Begitu efesien, begitu efektif. Tak perlu berteriak, tak perlu
menerabas batas-batas etika; orang bisa paham maksud si pembicara.
Cukup dengan berdehem 'ehm' misalnya, orang pun paham kalau di ruang
yang tampak kosong itu masih ada yang tinggal.
Di pentas dunia ini, alam kerap menampakkan seribu satu isyarat.
Gelombang laut yang tiba-tiba naik ke daratan, tanah yang bergetar
kuat, cuaca yang tak lagi mau teratur, angin yang tiba-tiba mampu
menerbangkan rumah, dan virus mematikan yang entah darimana
sekonyong-konyong hinggap di kehidupan manusia.
Itulah bahasa tingkat tinggi yang cuma bisa dimengerti oleh mereka
yang dewasa. Itulah isyarat Tuhan: "Aku selalu di dekatmu, kemana pun
kau menjauh!"
Simak dan pahamilah. Agar, kita tidak seperti anak kecil yang cuma
bisa bingung dan gelisah dengan kentingan tukang bakso dan klakson
pedagang sate ayam. (muhammadnuh@ eramuslim. com)

Monday, January 28, 2013

HUKUM TRUK SAMPAH

Suatu hari saya naik sebuah taxi dan menuju ke Bandara. Kami melaju pd jalur
yg benar ketika tiba-tiba sebuah mobil hitam melompat keluar dr tempat
parkir tepat di depan kami. Supir taxi menginjak pedal rem dalam-dalam
hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa cm dari mobil
tersebut.Pengemudi mobil hitam tsb mengeluarkan kepalanya & memaki ke arah
kami. Supir taxi hanya tersenyum & melambai pada orang tersebut.


Saya sangat heran dgn sikapnya yg bersahabat. saya bertanya, "Mengapa anda
melakukannya? Orang itu hampir merusak mobil anda dan dapat saja mengirim
kita ke rumah sakit!"Saat itulah saya belajar dr supir taxi tsb mengenai apa
yg saya kemudian sebut "Hukum Truk Sampah".


Ia menjelaskan bahwa byk orang seperti truk sampah. Mrk berjalan keliling
membawa sampah, seperti frustrasi, kemarahan, kekecewaan. Seiring dgn
semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat utk
membuangnya, & seringkali mereka membuangnya kpd anda. Jgn ambil hati,
tersenyum saja, lambaikan tangan, berkati mereka, lalu lanjutkan hidup.


Jgn ambil sampah mereka utk kembali membuangnya kpd orang lain yang anda
temui, di tempat kerja, di rumah atau dlm perjalanan.Intinya, orang yg
sukses adalah orang yang tidak membiarkan "truk sampah" mengambil alih
hari-hari mereka dgn merusak suasana hati.


Hidup ini terlalu singkat utk bangun di pagi hari dgn penyesalan, maka
kasihilah orang yg memperlakukan anda dgn benar, berdoalah bagi yg
tidak. Hidup itu 10% mengenai apa yg kau buat dengannya dan 90% ttg
bagaimana kamu menghadapinya.Hidup bukan mengenai menunggu badai berlalu,
tapi ttg bagaimana belajar menari dlm hujan.


Selamat menikmati hidup...

Thursday, January 24, 2013

Berbicara dengan Hati, Bukan Jari

"Matikan komputermu. Matikan juga ponselmu. Dan perhatikan manusia di sekelilingmu."
-- Eric Schmidt, CEO Google

ADIL jengkel betul dengan istrinya. Sepanjang liburan akhir pekan keduanya sepakat memilih beristirahat di rumah. Lima hari bekerja membuat mereka ingin melemaskan otot-otot. Sekaligus tentu saja mempererat tali cinta diantara mereka berdua. Maklum, mereka belum lagi genap dua tahun menikah. Buah hati yang menjadi dambaan mereka tak kunjung datang. Mungkin Yang Di Atas belum memberikan mereka kepercayaan. Begitu keduanya menghibur diri.

Tapi akhir pekan yang seharusnya indah justeru berubah menyebalkan. Seharian Anita, sang istri, hanya berada di kamar. Mungkin saja letih. Dia ingin istirahat penuh. Namun yang membuatnya jengkel, Anita terus menggenggam gadget kesayangannya. Anita kadang tertawa sendiri. Sampai kadang dia tak ingin jauh dari colokan listriknya. Gadget kesayangannya itu sering kehilangan tenaga, sehingga terpaksa harus dicharge.

Adil geleng-geleng kepala. Namun Anita cuek bebek. Katanya, dia sedang asyik mengobrol dengan teman yang lama tak dijumpainya. Bertemu di jejaring sosial facebook, mereka kemudian bertukar nomor PIN. Lalu itulah yang terjadi, mereka mengobrol ngalor-ngidul sesuka hati. Adil pun memilih untuk keluar rumah dan mengobrol dengan tetangga.

Ponsel cerdas itu menjadi booming di dunia, termasuk Indonesia. Apalagi setelah beberapa tokoh dunia dan seleb memakainya juga. Kelebihan menggunakan gadget ini dibandingkan dengan ponsel biasa memang beragam, misalnya saja layanan push mail, menerima dan membalas email yang masuk pada saat itu juga. Atau mengambil foto dan mengirimkannya ke handai taulan di luar negeri dalam sekejap. Lalu ada pula fasilitas chatting, browsing, hingga fasilitas online berbagai situs jejaring sosial. Kedekatan seseorang di dunia maya seakan-akan tidak lagi terpisahkan oleh ruang dan waktu. Tak aneh bila kemudian muncul istilah, 'mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat.'

Namun memakai gadget ini bukan tak ada kekurangannya sama sekali. Contohnya, ya itu, interaksi antara Adil dan Anita menjadi tak nyaman. Ketika seseorang berasyik masyuk dengan dirinya dan dunianya sendiri, serta tidak memperdulikan lingkungan sekitar, apalagi menjadikannya sebagai ketergantungan yang sangat, maka menurut anak zaman sekarang dikatakan terkena 'gejala autis'. Tapi bukankah merujuk peribahasa, 'man behind the gun', bahwa baik-buruknya penggunaan teknologi tergantung si pemakainya? Betul. Bila pemakainya memakai dengan bijak, tentu tak masalah. Sebaliknya pun demikian.

Tapi nyatanya memang, menurut penelitian, ketergantungan akan gadget menyebabkan seseorang menjadi tak fokus. Bahkan para uskup senior di Liverpool, Inggris menantang umatnya untuk berpuasa teknologi selama 40 hari. Mereka mendorong masing-masing orang untuk memangkas penggunaan karbon dengan tidak memakai sejumlah gadget. Tingkat ketergantungan pemakai gadget memang sungguh luar biasa. Hingga muncul istilah, 'it is heaven for business owners, but hell for employees'.

Gadget dibuat dengan tujuan membantu si pemakainya. Untuk menjadikan urusan berjalan dengan efektif dan efisien. Ambil satu contoh, misalnya saja ketika diadakan rapat penting. Saat dalam rapat membutuhkan komunikasi rahasia di antara peserta rapat, tentu saja cara yang cerdas dengan menggunakan gadget yang tersedia.

Tetapi pada kenyataannya, yang kerap kita jumpai, teknologi yang awalnya dirancang untuk membantu kehidupan manusia, malah justeru membuat kita semakin menjauh satu dengan lainnya. Menjauh dari orang-orang yang kita kasihi, dan menjauh pula dari Tuhan yang sesungguhnya dekat dengan kita.

Dengarlah apa yang dikatakan Eric Schmidt, CEO Google, dalam pidatonya di University of Pennsylvania, Amerika Serikat, pada 18 Mei 2009 lalu dihadapan enam ribu wisudawan. Schmidt berujar, "Matikan komputermu. Matikan juga ponselmu. Dan perhatikan manusia di sekelilingmu." Schmidt mengatakan demikian setelah melihat banyaknya kaum muda yang hanya terpaku pada dunia virtual di internet. Seakan tak peduli untuk berelasi dengan orang lain.

Itulah yang dirasakan Adil sekarang. Ia merasa jauh sekali dari istrinya. Adil sesungguhnya tak menuntut lebih dari Anita. Adil hanya ingin Anita menghentikan sekali saja pada saat mereka berada di rumah. Apalagi disaat-saat mereka sedang berdua atau liburan. Baginya komunikasi yang baik bukan lagi semata dengan jari-jari, walau teknologi sudah maju. Berbicara dengan tatap muka, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh tentu lebih memanusiakan diri.

Kita seharusnya memang dapat berhenti sejenak dari kegaduhan dunia virtual dan kembali pada 'habitatnya' sebagai makhluk sosial.

Oleh: Sonny Wibisono *